AIR MATA

 

Di setiap air mata yang jatuh pasti akan ada kebahagiaan. Berharap istilah itu terjadi kepadaku saat ini, ketika air mata yang aku teteskan akan berakhir menjadi kebahagiaan. Air mata ini bukan sekedar perasaan sedih yang tak terbendung dalam hatiku, tetapi juga ungkapan yang tak mampu aku ucapkan dalam kata-kata. Dengan air mata aku bisa mengungkapkannya, dengan air mata aku mampu melihat kedepan agar tak terulang hal yang sama, dengan air mata aku mampu berpikir bagaimana untuk bisa menghentikan kesakitan yang tak terbendung itu dan dengan air mata aku bisa merasakan penderitaan orang lain.

Di hari yang indah ini aku berdoa dalam hati agar tak ada air mata yang jauh. Berharap semua akan terasa indah dan menyenangkan baik di rumah, sekolah maupun di masyarakat.

Anggapan orang mengenai sikap dan perilakuku  membuatku hancur dan terpuruk. Aku dianggap seseorang yang tak berguna, yang hidupnya dikasihani oleh orang lain, yang selalu membuat kesalahan yang besar hingga adanya kerusakan atau kecelakaan, orang yang bodoh, orang yang tak bisa berpikir mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, dan mungkin masih banyak lagi anggapan-anggapan mereka mengenaiku.

Di kota kecil ini aku memang menetap sendiri, di kos-kosan kecil hasil orangtuaku menjual tanahnya di kampung. Kedua orangtuaku memang masih ada, tapi mungkin mereka tak menginginkanku untuk tinggal bersama, mereka lebih rela kehilangan tanahnya demi berpisah denganku. Tapi, aku berharap dan semoga itu bukan hal yang benar.

Sudah dua tahun aku tinggal di kos-kosan ini, tanpa ada teman dan tanpa ada saudara. Setiap pagi aku berjalan menyusuri trotoar untuk menapai sekolahku yang berjarak 3 km dan ketika pulang sekolah aku harus mencuci pakaian anak-anak kos agar aku bisa makan dengan hasilnya.

“Erna, tunggu.” Terdengar seseorang memanggil namaku, tanpa pikir panjang aku membalikkan badan, ternyata Pita yang memanggilku. Pita memang cukup denganku, tetapi apa mungkin Pita hanya memanfaatkanku, aku tak tahu.

“Iya, ada apa Pit?” tanyaku pada Pita.

“Engga ada apa-apa ko, aku mau minta tolong nih sama kamu. Dan aku harap kamu mau nolongin aku, mau kan?” tanya Pita sedikit memelas.

“Emm.. kalo emang aku bisa bantu aku mau nolongin kamu.”

“Aku mau ngajak kamu ke toko baju, bentar lagi kan aku mau ulang tahun jadi aku mau nyari-nyari baju tapi gak ada temen. Mau kan ikut sama aku? Entar aku kasih baju deh buat kamu, asal kamu mau nganter aku!”

“Emm.. ya udah aku mau deh nganterin kamu.”

“Makasih yah Na.”

**

Sudah setengah jam Erna menunggu Pita di gerbang, tetapi tak sedikit pun terlihat Pita muncul. Tak lama Pita datang dan menghampiri Erna.

“Na, maaf ya tadi aku latihan vokal dulu. Engga apa-apa kan.”

“Iya engga apa-apa ko.” Jawabku pada Pita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s