Seketsa Hidup (Bagian 1)

Kau Tinggalkanku

Kembali

H

ari yang cerah pagi ini, cuaca yang sangat mendukung akan kehadirannya menemuiku. Aku sudah menantinya. Berharap ia kan segera kembali. Seakan aku ingin terus menatapnya tanpa henti ketika berada di hadapannya. Dia, sang pujaan hati yang pergi menimba ilmu di Yogyakarta, yang akhirnya akan pulang dan menemuiku, ia adalah Rio.

Sejak pagi aku terus berbenah untuk menyambut kedatangannya. Dia orang yang sangat spesial untukku, sehingga acara penyambutan dariku harus benar-benar sempurna. Di meja makan, aku tlah siapkan makanan kesukaannya, aku telah pasang kaset lagu kesukaannya, sampai dekorasi ruangan pun tlah aku tata demi menyambut kehadirannya.

Dua jam telah aku nanti dirinya, tetapi tak kunjung datang. Aku terus mencoba menghubunginya, tetapi tak ada jawaban. Perasaanku tak karuan, aku tlah berpikiran yang tidak baik, apa dia kecelakaan, dia tabrakan, atau memang hanya macet, atau pesawatnya jatuh.

Enam bulan sudah lamanya aku tak berjumpa dengannya, sungguh terasa dan sungguh besar perasaan rinduku padanya. Masih ku ingat wajahnya ketika dia pergi meninggalkanku. Dulu, aku memang tak yakin dia kan tetap mengingatku dengan jarak yang terbentang jauh. Aku tak tahu apa yang dia lakukan, dengan siapa, apa dia baik-baik saja atau tidak. Tapi, yang jelas setiap waktu aku terus mendoakan untuk kebaikannya.

***

Aku masih berdiri melihat ke luar jendela dan berharap dia kan segera sampai. Sampai aku tak kuasa berdiri karena lelah. Aku pun terduduk di sebuah sofa ruang tamu, sampai akhirnya aku terlelap.

Tak terasa aku tidur cukup lama, ketika aku terbangun hari sudah mulai sore. Aku pun menuju kamar mandi yang berada di kamarku. Dan, sungguh terkejut diriku, dia orang yang aku tlah tunggu-tunggu berdiri tegak dengan senyuman manisnya di samping kamarku. Aku pun terdiam memandang wajahnya. Sontak perasaanku tak karuan, aku merasa senang, tetapi aku terharu dan ingin berteriak menangis. Dia pun menghampiriku dan memelukku. Tanpa aku sadar, air mataku pun jatuh karena aku ternyata mampu menunggunya enam bulan. Padahal, dulu sehari pun aku tak bisa dia tinggalkan.

Dia pun mengajakku ke ruang makan, aku duduk di sebelahnya dan melihatnya makan dengan lahapnya. Dia mengatakan bahwa dia rindu masakanku, dia rindu melihat senyumku, tawa riangku yang selama enam bulan tak ia jumpai.

Selesai makan, aku mengajaknya duduk di taman dekat rumahku. Dulu, kami biasa duduk di kursi taman itu, bercengkrama dan tertawa bersama di sana, dan akhirnya sekarang aku merasakannya kembali.

***

Sepanjang pertemuanku dengannya, dia tak banyak berkata. Dia hanya banyak menanyakan keadaanku. Hingga suatu ketika dia berkata padaku.

“Al, aku pengen jujur ma kamu.”

Aku pun langsung menganggukkan kepalaku dan tersenyum kepadanya tanpa terpikir di benakku apa yang akan ia katakan.

“Al, hubungan kita udah lama juga ya. Udah 2 tahun lebih. Hmm.. makasih ya Al, kamu udah mau sabar nunggu aku, kamu udah bisa dewasa sekarang. Makasih juga ya Al kamu udah setia jaga perasaan kamu ma aku. Tapi, maafin aku ya Al.”

Aku senang dia katakan semua itu. Tapi aku bingung, kenapa dia akhirnya minta maaf padaku. Aku pun memintanya untuk melanjutkan pembicaraannya.

“Aku minta maaf Al, aku udah ninggalin kamu. Aku sebenarnya gak mau ninggalin kamu, tapi aku harus lanjutin sekolah. Maaf Al.”

Mendengar dia hanya mengatakan itu, perasaanku lega. Tapi, dia kemudian melanjutkan kembali.

“Tapi Al, ini mungkin bukan akhir dari kepergianku. Lusa, aku akan pergi ke Malaysia untuk bekerja bersama Kak Budi.”

Aku pun kembali terdiam, aku sedih karena baru saja aku bertemu dengannya dan melepas rinduku. Tapi lusa semua kan sepi seperti dahulu lagi.

Aku pun terdiam menatapnya. Lalu aku berkata.

“Sayang, aku seneng banget sekarang aku bisa ketemu lagi ma kamu. Aku seneng bisa liat senyummu lagi, bisa ada di sampingmu lagi. Tapi kenapa harus secepat ini kamu pergi. Apa kamu udah gak sayang ma aku ? ma orang yang rela nunggu kamu.”

Dia hanya menundukan kepala. Mungkin ia sedang berpikir. Tapi aku yakin dia tak ingin bermaksud meninggalkanku.

“Alya sayang, aku sungguh masih sayang ma kamu. Aku masih butuh kamu jadi teman hidupku. Tapi ini demi kita, aku begini karna aku ingin suatu hari nanti kita bisa hidup bersama dengan  bahagia. Al, ini hanya sebantar kok. Aku kerja di sana tapi tiap 2 minggu aku balik kok. Aku juga gak bakalan langsung kerja. Aku mau liat-liat dulu, apa kira-kira aku bakalan betah kerja di sana apa engga. Kamu percaya kan sayang.”

“Ya udah deh gak apa-apa. Aku ngerti kalo kamu mau kerja. Tapi, janji ya kamu masih tetep suka ngehubungin aku. Aku sepi di sini gak ada temen.”

“Iya janji.”

***

Akhirnya sang pujaan pun terbang ke Malaysia bersama sang kakak. Aku selalu mempercayainya. Dan aku berharap dia pun selalu mempercayaiku. Mungkin aku dan Rio sudah saling mengerti satu sama lain. Kami tidak seperti pasangan-pasangan lainnya yang banyak terjadi masalah, gampang bilang putus, saling cemburu, atau lainnya. Aku dan Rio justru seperti teman, tepatnya sahabat, Rio selalu membuat hubungan kami tidak membosankan, meskipun kadang itu sedikit menyebalkan.

Orang tua Rio sampai seluruh keluarganya sudah mengetahui hubunganku dan Rio, mereka senang dengan hubungan kami. Sejak kecil kami sudah saling kenal, mungkin dari itu juga orang tuaku dan keluarga Rio mengizinkan kami hingga selama ini.

Rio bukanlah seseorang yang tepat waktu. Tapi dia bisa di percaya. Dia cenderung santai dalam melakukan sesuatu, beda sekali dengan diriku, meskipun terkadang aku juga melakukan seperti itu, aku lebih cenderung menepati janji, tepat waktu dan tidak bersantai-santai. Meskipun itu sudah menjadi kebiasaan dan sifat Rio, aku masih menerimanya.

Rio dan aku lahir pada hari yang sama, kebanyakan orang mengatakan bahwa hubungan kami lebih diwarnai dengan masalah. Memang benar, tapi itu tak pernah berlangsung lama. 2 jam masalah langsung selesai.

Dia sosok pria yang dewasa, mungkin karena dia adalah anak sulung, tapi aku sungguh salut dan bangga pada dirinya. Dia tak pernah mengharapkan pemberian orang lain, dia lebih senang mendapatkan sesuatu hasil dari dirinya.

Sayang yang aku rasakan padanya begitu besar, dia sudah jadi belahan jiwaku, meskipun aku tak tahu apa aku mampu menjalani hubungan ini sampai jenjang yang lebih lama, dan sampai aku tua nanti.

Dia sosok seseorang yang pendiam, orang yang cuek pada sesuatu. Aku sudah terlalu mengerti akan sifat dirinya. Dia memang menyebalkan, memang seseorang yang terlalu romantis, tapi dia mengerti akan sikapku.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s