Skesta Hidup (Bagian 3)

Perasaan ini

Salah Aku Rasakan

 

Memang cinta indah terasa

Memang cinta tak mengenal siapa

Cinta datang tanpa permisi

Cinta datang tanpa janji

 

S

ulit ku ucapkan dengan kata-kata, sulit aku bayangkan dalam lamunan, sulit aku rasakan dengan hati, tapi ini ternyata memang cinta, sebuah cinta yang tak pantas aku punya, pada Gian, pada orang yang sahabatku sayangi.

Memang aku ragu pada hatiku, aku tak mungkin menyukainya, aku tak mungkin menginginkannya jadi orang spesial di hatiku, tapi berat rasanya ketika tak tahu keadaannya, tak tahu apa  yang ia kerjakan dan ia lakukan.

Berhari-hari aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku ini. Hingga aku bingung untuk menemui sahabat-sahabatku. Aku takut ini benar-benar terjadi. Sebuah cinta pada Gian.

“Hallo sayang!” terdengar seseorang memanggilku yang aku ingat jelas siapa dia. Rio.

Aku terkejut mendengarnya, ketika aku membalikkan badan ternyata Rio benar ada di hadapanku saat ini. Rio tersenyum dan menghampiriku. Dia memberiku sebuah kado kecil dari kepulangannya dari Malaysia.

“Sayang, ini hadiah buat kamu.”

Aku yang awalnya memang sedang terdiam mengingat kesalahanku tak kunjung bicara meskipun Rio mengajakku berbicara.

“Kamu kenapa Al? Sakit?” tanya Rio bingung dengan keadaanku.

Tak terasa airmataku menetes, aku tak tahu kenapa aku harus menangis, kenapa ada rasa takut dalam hatiku melihat Rio ada di Indonesia.

“Alya, kamu kenapa? Kamu jangan sedih gitu dong Al, aku bakalan ada di Indonesia kok sampe dua minggu kedepan, jadi kamu gak usah sedih yah. Maaf kemaren-kemaren aku engga hubungin kamu, soalnya banyak banget kerjaan. Maaf ya sayang.”

Aku semakin terkejut mendengar Rio akan ada di Indonesia sampe dua minggu kedepan. Aku semakin menundukkan kepalaku dan menangis sejadinya.

Kemudian Rio menenangkanku dan memintaku untuk tidur dan beristirahat. Rio pun keluar kamarku dan pulang.

***

            Sudah dua hari Gian menghubungiku tanpa aku menjawab panggilan maupun chat-nya. Aku takut Rio melihatnya dan aku takut Rio mmarah kalo tahu aku punya rasa ini pada Gian.

Tapi ternyata semua sia-sia, Rio menemukan chattingku dengan Gian. Rio marah besar melihatnya, sampai Rio tak mau menghubungiku untuk beberapa hari, dia memintaku untuk tak behubungan lagi dengan Gian. Aku hanya bisa terdiam dan menangis ketika kata-kata marah terdengar ke telingaku.

“Al, aku engga percaya kamu bisa ngelakuin ini sama aku! Aku kira kamu di sini setia nunggu aku, kamu setia jaga perasaan aku, tapi ternyata kamu malah deket sama orang lain. Kamu ga mentingin perasaan aku apa? Aku ke Malaysia demi kita ntar Al. Kamu engga ngerti apa?”

Semua kata-kata Rio begitu membuatku sakit, tapi ini aku sadari, ini memang kesalahanku.

***

            Tak aku sangka ternyata Rio menghubungi Gian dan marah-marah. Dia meminta Gian buat jauhin aku. Meskipun dalam hati kecilku aku tak ingin kehilangan Gian. Aku menyadari benar apa yang aku lakukan benar-benar salah.

Dua minggu berlalu, Rio kemudian kembali ke Malaysia untuk melanjutkan pekerjaan bersama kakak sepupunya. Dan sebelum Rio berangkat, Rio berpesan kepadaku untuk tidak berhubungan kembali dengan Gian.

Suatu hari Gian tahu bahwa Rio sudah kembali ke Malaysia, Gian kemudian menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di tempat biasa aku dan Gian bertemu.

Di sana Gian meminta maaf kepadaku karenanya aku dan Rio jadi punya masalah.

“Al, aku minta maaf ya, gara-gara aku!” kata Gian merasa bersalah.

“Engga kok Yan, aku justru yang ngerasa banyak salah sama kamu. Aku yang engga bilang kalo aku punya cowok! Aku udah masukin kamu ke masalah aku. Maaf banget ya,” jawabku dengan menahan tangis.

“Iya engga apa-apa. Kamu laper engga?”

“Yah laper, dari kemaren engga makan.”

“Yang bener kamu? Kenapa ga makan? Kalo kamu sakit gimana? Aku ga mau loh ntar aku denger kabar kalo kamu sakit gara-gara engga makan. Sekarang mendingan kamu ikut aku aja. Harus mau yah!”

Aku seneng banget denger Gian ngomong gitu sama aku, akhirnya aku ikut Gian ke salah satu tempat makan.

“Makan yang banyak ya Al,” Gian tersenyum  dan memintaku menghabiskan makanan yang sudah aku pesan.

“Iya Yan, kamu juga.”

Setelah makananku dan Gian habis, aku melihat Gian terdiam melamunkan sesuatu, aku sengaja iseng dan mencubit pipinya dengan keras, kemudian terdengar “Aww..” sebagai menandakan betapa sakitnya aku cubit.

Aku hanya tertawa melihat Gian mengelus-elus pipinya. Bukannya aku kasihan melihat kejadian itu, tapi aku justru senang melihatnya.

“Al, pulang yu. Udah sore nih, kamu jangan nyubit lagi yah, awas kalo nyubit!” kata Gian yang masih memegangi pipinya dengan kedua tangan.

“Iya iya. Maaf ya Yan! Hehe.”

Di perjalanan pulang, di motor Gian menyuruhku membukakan tasnya.

“Alya, bukain tas aku dong. Mau engga?” pinta Gian kepadaku di motor.

“Iya nih udah dibuka Yan, mau ngambil apa?”

“Ambilin boneka kecil di tas aku dong.”

“Wahh.. lucu nih Yan. Nih bonekanya,” kataku sambil memberikannya pada Gian.

“Al.?” Tanya Gian kemudian.

“Iya Yan?” tanyaku kembali.

“Nih buat kamu!” Gian memberikan boneka itu kepadaku sambil sedikit berbalik melihat wajahku.

“Buat aku Yan? Yang bener, ini kan lucu banget tahu!” kataku dengan perasaan terkejut dan senang.

“Iya buat kamu, buat siapa lagi Al kalo bukan buat kamu! Suka engga?” kata Gian meyakinkan.

“Iya suka dong, makasih banget ya Yan.” Di saat itu juga aku merasa benar-benar jadi wanita yang paling beruntung mengenal Gian. Aku serasa terjatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Dan saat itu juga aku ingin berteriak ssekencang-kencangnya, “Aku seneeenngg.”

Sesampenya di depan rumahku, aku mengucapkan kembali terimakasihku kepada Gian buat boneka lucunya. Tapi, kemudian Gian berkata.

“Iya sama-sama. Al, ini terakhirkalinya aku kesini yah. Makasih buat hari-harinya!”

Kemudian Gian membalikkan motornya dan pergi.  Aku yang terkejut tak bisa berkata apa-apa, aku hanya terdiam dan bingung harus melakukan apa. Aku yang sedang memegang boneka pemberian Gian tanpa terasa terlepas dari genggamanku.

***

            Sepulangnya Gian, aku kemudian terus menghubunginya dengan perasaan sedih. Aku tak ingin hari ini menjadi hari terakhirku dengan Gian, kini aku benar-benar tahu bahwa aku mencintainya, aku tak ingin kehilangannya dari hidupku.

Berulang kali aku menghubunginya, tapi semua tak membuahkan hasil. Gian tak menjawab telponku, SMS-ku dan dia telah meremove pertemanku. Aku benar-benar bingung dengan semua ini, dan akhirnya aku teringat Ferdy, dia adalah saudara dekat dengan Gian.

Aku banyak bertanya kepada Ferdy, kenapa Gian melakukan hal seperti itu kepadaku dan akhirnya ferdy menjawab.

“Alya, aku emang engga bisa bilang apa-apa sama kamu. Tapi aku kasihan sama kamu, yaudah meskipun aku udah janji sama Gian buat ga bilang sama siapa-siapa aku bakal kasih tahu kamu.”

Kemudian Ferdy menjelaskan panjang lebar kepadaku bahwa sebenarnya Gian emang suka sama aku, Gian emang sempet mau jadian sama aku, tapi karena Gian tahu aku temen Reva jadi Gian ngundurin diri buat bisa lebih deket sama kamu, lagian Gian bilang kalo aku udah punya Rio, dan Gian ga pengen hubungan aku sama Rio hancur gara-gara Gian, gara-gara orang ketiga.

Setelah mendengar penjelasan Ferdy, aku baru sadar kalo Gian udah baik banget sama aku, dia udah ngerelain perasaannya meskipun ini engga mudah buat Gian. Aku bener-bener salaut sama Gian.

***

            Udah beberapa minggu Reva sama April engga dateng ke rumahku, mungkin juga mereka ngerasain kalo aku suka sama Gian.

Aku akhirnya coba hubungin April dan ngajak April jalan. April menyetujuinya. Tapi aku tak tahu kenapa aku merasa malu jika harus hubungin Reva. Tapi demi persahabatanku dengan mereka, akhirnya aku hubungin Reva meskipun dengan perasaan yang sedikit ragu dan takut.

“Rev, jalan yu!” ajakku pada Reva.

“Hm, kapan? Ntar deh aku kesana,” jawab Reva dengan suara datar.

“Ntar siang, April udah setuju ko. Yaudah ntar aku tunggu ya!”

Selesai pembicaraan pendekku dengan Reva, aku benar-benar merasa bersalah sama Reva yang udah suka sama orang yang udah dari awal Reva suka. Dan kini aku mau belajar buat engga inget Gian lagi, aku udah mau serius jalanin hubunganku sama Rio, dan yang jelas demi persahabatanku tetap baik aku bakalan coba apapun itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s