Sketsa Hidup (Bagian 2)

Ada Kamu Yang

Isi Hatiku

 

T

iga bulan lamanya Rio telah pergi ke Malaysia, terasa sepi dan merindukannya. Ternyata sudah satu bulan ini Rio tak pulang menjumpaiku, mungkin dia kelelahan jika harup pulang dua minggu sekali ke Indonesia, dan tentunya aku mengerti.

Aku memiliki dua orang sahabat dari aku kecil, mereka adalah Reva dan April. Udah sekian lama mereka menjadi sahabat yang selalu menemaniku ketika Rio pergi.

“Al, kita pergi yu. Aku mau kenalin kamu sama cowok yang aku ceritain waktu itu. Mau ga?” ajak Reva padaku.

“Siapa Rev? Kita pergi bertiga gitu?”

“Itu si Gian, masa kamu lupa sih?”

“Oh Gian, yang gebetan kamu itu?”

“Heem siapa lagi. Ikut ya ikut please!”

“Iya iya aku ikut deh, kapan?”

“Sekarang. Ntar aku telpon anak satu tuh yang susah banget dibangunin, neneng April.  Haha!”

“Ko sekarang sih! Ih dasar tukang dadakan. Yaudah aku mandi dulu ya, kamu telpon si neneng April dulu.”

“Sip lah.”

Setelah terkumpul tiga sekawan ini mereka pun pergi kesebuah rumah yang ternyata rumah Gian. Ketika pintu terbuka, terlihat seorang anak kecil botak yang tersenyum.

“Mau ke siapa kakak?” tanya anak kecil itu yang berusia sekitar 4 tahun.

“Mau ke Gian, ada dek?” jawab Reva dengan senyumnya.

“Oh, abang ada kok. Masuk kak!”

Kemudian anak kecil itu masuk ke dalam rumah dan berteriak keras, “Abaaanggg ada temen tuh dateng”. Suaranya yang serak-serak terdengar lucu dan kemudian kamu bertiga tertawa mendengar suara itu.

Terlihat seseorang turun dari bawah tangga, ternyata Gian.

“Pril, Al, itu tuh yang namanya Gian. Lucu kan wajahnya?!” tunjuk Reva pada Gian yang berjalan di sebuah tangga.

“Hei semua,” sapa Gian ramah.

“Hei Yan, ini anak-anak pengen ketemu kamu nih,” jawab Reva sok tahu, padahal aku sama April dateng gara-gara dipaksa Reva.

“Ah, aku engga,” jawab April nyerobot.

“Aku juga engga tuh, aku malah cuman dipaksa ikut aja,” kataku membela diri.

“Yee.. kalian kok pada gitu sih!” potong Reva.

“Udah-udah, gak apa-apa kok kalian pada mau ketemu aku atau cuman pada iseng ketemu aku aja, aku tahu kok kalo banyak orang yang mau ketemu aku. Haha,” kata Gian menyelesaikan.

Tak terasa pertemuan kami dengan Gian sudah berlangsung 3 jam. Disaat-saat itu aku dan teman-teman merasa senang menemuinya, ternyata Gian yang aku kira cuek itu tak benar. Gian seseorang yang perhatian kepada permpuan, Gian seseorang yang romantis meskipun aku baru menemuinya, begitu jelas terlihat dari setiap tutur katanya yang lembut, dia juga seseorang yang senang akan humor dan musik.

***

Tiba-tiba suara berdering dai handphoneku, ternyata Reva yang memanggil.

“Hallo Al? Lagi dimana?” tanya Reva dengan tergesa-gesa.

“Aku lagi di rumah, kenapa?”

“Engga, kirain lagi di luar rumah. Kamu tahu ga si Gian lagi dimana? Aku nyariin dari tadi kok engga bisa di hubungi yah? Aku khawatir nih?”

“Kagak tahu neng, aku bukan pengasuhnya lagi. Trus aku kan ga punya no hpnya tuh anak!”

“hm, yaudah ntar aku kirim yah lewat pesan. Coba sama kamu hubungin dia.”

“Sip bos.”

Beberapa menit kemudian terdengar suara handphoneku berdering, tanda bahwa ada pesan masuk. Ternyata dari Reva, dia mengirimkan no hp Gian.

Tak berpikir panjang aku kemudian mencoba menghubungi Gian, tapi ternyata nomor Gian sedang tidak aktif.

Sekitar 30 menit kemudian aku mendapatkan sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Gian.

“Hallo Gian,” kataku ketika menjawab telpon darinya.

“Ini siapa yah?” tanya Gian, yang memang tidak mengetahui nomor handphoneku.

“Ini Alya, kamu lagi dimana Yan? Ada yang kangen tuh sama kamu!”

“Oh Alya, kirain para fans aku. Hehe. Aku baru nyampe rumah nih, baru pindahan. Emang siapa sih yang pada kangen sama aku? Kamu?”

“Ih dasar, bukan aku kok, tuh temen aku yang kangen berat sama kamu. Emang pindahan kemana? Kok ga bilang-bilang kalo kamu mau pindah?”

“Aku mau pindah ke rumah nenek, engga di rumah nenek banget sih, cuman daerahnya deket sama rumah nenek, gitu,” kata Gian menjelaskan.

“oohh.. Gitu ya Yan!”

“Oh nya kok panjang banget sih Al? Aku curiga kamu keselek buah mangga! Haha.”

“Ih dasar, engga kok. Aku cuman pengen aja gitu soalnya kamu tadikan baru ngejelasin ke aku! Hm, Reva kamu sms sana dia udah kangen banget, aku lagi disuruh mama nih! Ga apa-apa kan?”

“Iya ntar aku hubungin dia deh! Iya engga apa-apa kalokamu lagi di suruh, yaudah cepet sana. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam,” kataku mengakhiri telpon dengan Gian yanglucu banget kalo ngomong.

***

Malam harinya Reva datang kerumahku yang sebelumnya SMS aku kalo dia pengen curhat dan nanyain aku dan Gian tadi ngomongin apa aja di telpon.

Sampe jam setengah sembilan Reva di rumahku, aku dengan serius mendengarkan ceritanya. Hampir setiap malam dia selalu datang ke rumahku dengan niat yang sama.

Setelah sekian panjang aku mendengar curhatannya akhirnya Reva mengakhirinya dengan senyuman yang lebar karena sudah puas berbincang-bincang denganku untuk mengutarakan perasaannya yang sedang galau karna suka sama dua cowok.

Reva memang seorang perempuan yang gak begitu suka cowok yang agresif, karena sekitar sebulan yang lalu dia trauma sama yang namanya cowok agresif. Cowok itu emang sampe sekarang masih ngejar-ngejar Reva, tapi gak tahu gimana jalan pikiran tuh cowok, meskipun udah puluhan kali di tolak masih tetep aja ngejar dan mohon-mohon cinta Reva.

***

Sudah hampir seminggu aku selalu telpon dan SMS-an sama Gian. Ternyata gak salah banyak banget cewek yang ngejar-ngejar dia, soalnya Gian ramah banget jadi cowok, enak banget diajak curhat, wah pokoknya beneran deh baik tuh cowok.

Suatu malam ketika Rio tak kunjung menghubungi selama 2 hari ini Gian datang menawarkan sebuah kebahagiaan kepadaku, dan aku tak sadar bahwa aku sudah masuk dan terjebak ke dalam kebaikan Gian.

Sampe larut malam aku chatting bareng Gian, banyak kata-kata manis yang terkadang terlontar darinya yang membuatku terkadang malu dan seakan terbang ke langit ke-tujuh. Ini benar-benar terasa nyaman.

Sewaktu-waktu ketika aku tersanjung oleh kata-kata Gian, aku teringat Rio. Aku takut mengecewakannya jika tahu aku di sini dekat  dengan lelaki lain.

Tak terasa malam ke-delapan aku chatting, telpon, dan SMS-an bareng Gian aku merasakan sebuah rasa yang aneh, sebuah perasaan yang membuatku selalu merindunya, dan selalu ingin tahu keadaannya. Apa ini sayang? Apa ini cinta?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s