Mentari

Mentari pagi mulai menampakan cahaya terangnya. Masih dengan teratur hadir disetiap harinya. Masih setia terbangun dari mimpi indahnya di malam hari. Masih dengan harapannya membuat orang bahagia. Masih dengan doanya untuk seluruh makhluk di muka bumi.

“Tuhan, aku Mentari, terlahir kembali di pagi ini. Berdoa pada-Mu untuk kebahagiaan setiap insan di dunia. Kembali bantu hamba-Mu ini, Tuhan. Agar tercipta banyak senyuman dan tawa bahagia karena kehadiranku. Amin”

Ketika hanya sedikit aku menampakkan tubuhku, aku sudah memulai hari-hari seluruh makhluk, melihat mereka dengan bahagia menyambutku dari mimpi. Aku tersenyum dan ingin sekali mengucapkan ‘Selamat Pagi’, tapi ini terlalu sulit untukku. Aku tidak pernah bisa berkata, aku hanya bisa tersenyum, menangis, berdoa, berharap, meminta dalam hati, tanpa bisa berteriak, menyambut, menjawab juga bertanya.

Aku membuka pintu dunia, sedikit melangkah menampakkan seluruh tubuhku. Terlihat jelas mereka mengulurkan tangan menyambut hadirku. Tanpa jawaban aku hanya melangkah sedikit demi sedikit. Tapi aku sadar, aku tidak bisa berjalan, aku tidak punya kaki untuk aku langkahkan, aku masih terduduk, aku masih diam di tempatku, aku tidak pernah tahu rasanya berlari, melompat, melangkah dan menari.

Terdengar gadis remaja memanggil wanita berusia sekitar 35 tahun dengan sebutan ‘Ibu’. Gadis itu cantik, berkulit putih, tinggi, memiliki kaki yang indah, dan terlihat memiliki senyuman dan mata yang menawan. Seseorang yang sangat sempurna di mataku. Ia berlari memeluk seseorang yang ia panggil Ibu. Ibu itu tersenyum dan memeluk gadis itu dan kemudian memanggilnya dengan ‘Matahari’. Ternyata gadis itu bernama Matahari. Sangat indah seperti dirinya yang juga begitu indah.

Aku ingin menangis melihatnya. Apa aku punya Ibu? Apa aku juga punya seseorang yang akan memelukku di setiap paginya? Apa aku punya seseorang yang akan tersenyum dengan tulus kepadaku? Sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa melihat, tanpa bisa berjalan dan berbicara. Aku lumpuh dan bisu.

Aku menundukkan kepalaku, ingin menjerit dan melompat dari kursi ini kemudian pergi meninggalkan tempat yang kini aku tinggali. Tapi aku cacat, aku tidak pernah bisa melakukan apa-apa. Aku gadis kecil tidak berguna. Aku gadis kecil yang hanya akan menyusahkan. Aku hanya gadis kecil yang tidak akan dipedulikan siapapun.

Tanpa aku sadar seseorang berjalan menghampiriku, aku melihat sepasang kaki putih berada di hadapanku saat ini. Ketika aku angkat kepalaku, ada Ibu yang Matahari panggil tadi.

Ibu itu duduk dihadapku dan kemudian membelai rambut pendekku. Memberiku sebuah senyuman tulus yang juga ia berikan tadi pada Matahari. Di satu tempat, aku mendengar Matahari berteriak, “Ibu, Adek Mentari kemana? Kakak pengen nunjukin gambar bikinan Kakak buat Adek Mentari.” Dengan refleks Ibu kemudian menjawabnya, “Di sini, Adek Mentari lagi sama Ibu. Coba kamu bawa gambarnya, Kak.”

Aku termenung mendengarnya, apa maksud semua ini? Apa iya mereka keluargaku? Aku menangis tanpa terasa. Dan aku merasakan ibu menghapus airmata yang mengalir di pipiku.

“Adek Mentari, ini Kakak, Kakak Matahari. Liat deh, Kakak bikin gambar buat kamu. Yang ini Ibu, yang ini Kakak, Ayah sama kamu, Dek. Bagus engga?”

Aku tersenyum mendengar apa yang Matahari katakan. Ternyata mereka benar keluargaku. Mereka benar menyayangiku.

“Bagus kan, Dek? Kakak bikin cuman buat Adek aja. Sekarang Adek makan dulu ya, Ibu ambilin sekarang. Kamu harus sembuh karena kami sayang kamu.”

Iklan

4 thoughts on “Mentari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s