Malu Rasanya

Sudah aku buat sebuah hadiah kecil yang akan aku berikan padamu esok hari. Begitu mendebarkan dan aku malu ketika aku melihatnya dengan bungkusan kertas berwarna biru bergaris tepat di atas meja riasku.
Malu rasanya melihat sesuatu yang tidak begitu berharga, ternyata esok hari akan hilang dan tak dapat lagi aku lihat bentuknya yang unik dalam kamar biru langitku.
Malu rasanya. Takut-takut ia tidak akan suka dan malah akan membuangnya dengan perasaan tak peduli.
Entahlah. Aku terus memikirkan hal tak penting seperti ini. Bayangannya melecehkan apa yang sebenarnya belum terjadi dan hanya menjadi setan di dalam pikiranku. Tuhan, bantu aku melepaskan semua pikiran buruk ini.
Seharusnya aku optimis, dia akan menerimanya dengan baik dan dia akan memberikan senyuman termanis untukku. Tapi, aku justru melipat wajahku dan memperlihatkan wajah sangat tidak baik. Aku membisu. Takut ini benar-benar memenjarakanku.
Malu rasanya, aku bukan seorang makhluk berdompet tebal penuh dengan kertas berangka besar pula. Aku manusia tak berdompet, tak beroda, tak berkalungkan berlian, tak juga beratapkan istana. Aku adalah aku yang tidak bisa disebut sederhana.
Malu rasanya. Malu rasanya. Malu rasanya.
Aku menyimpan perasaan lebih padanya.

Iklan

2 thoughts on “Malu Rasanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s