Pernah Denganmu

Pernahkah kamu sejenak berpikir tentang seberapa besar rasa yang aku miliki saat ini? Pernahkah kamu ingat seberapa inginnya aku terus tetap tinggal bersamamu? Pernahkah kamu merasakan sedalam apa tatapanku ketika menatap tepat di bola matamu? Pernahkah? Pernahkah? Pernahkah?
Aku bodoh jika terus tinggal bersamamu. Bodoh sekali tetap diam meskipun hati ini telah menangis meronta mengharapkan tidak pernah berjumpa. Kamu terlalu-terlalu manis sampai terlalu sulit aku membuangnya. Tak cukup 1000 halaman kertas untuk menggambarkan kebahagiaanku ketika masih tetap bersamamu.
Memilikimu bukan hanya sesuatu yang menjadi hal terindah. Memilikimu adalah hal yang sempat aku pikir tidak akan pernah terulang kembali. Memilikimu adalah segala mimpi yang hancur dan tergantikan dengan anugerah lain. Memilikimu adalah mencintai dengan hati tanpa peduli segala hal di luar sana.
Jelas semua kemudian berubah jadi derita. Ya, aku salah. Aku berdosa. Maaf pernah seakan dengan mudah melepaskan keindahan itu. Maaf pernah mengecewakan kebahagiaan itu. Maaf aku menghancurkan harapmu. Maaf meninggalkanmu. Dan kamu tahu jelas, mereka dan hanya mereka yang terus mengolah otak tentang apa yang kita punya.
Aku pikir hanya aku yang tetap seperti ini. Tapi ternyata bukan hanya aku yang memiliki debar getaran cinta yang dalam padamu. Mereka-mereka-mereka masih tetap menanamnya untukmu. Mereka menginginkanmu. Dan kamu menginginkan mereka juga mungkin. Dekat denganmu jelas menggoyahkan rasaku, aku tak akan mampu seperti mereka. Mereka penuh dengan segala hal untuk merebut jiwamu. Sedangkan aku tak punya sedikitpun hal yang bisa membuatmu tetap memelukku.
Aku kehilangan angan, 19 Maret itu sudah menjadi hari terakhir aku duduk sangat dekat denganmu, menatapmu, menyentuhmu, bahkan menangis karenamu. Aku mencintaimu. Jelas aku sangat sangat mengharapkanmu. Semoga kamu tahu itu. Kamu yang terus menerus membicarakan apa yang sebenarnya kamu juga tak tahu. Dan aku benci hal itu. Maaf aku pernah memendam rasa ini begitu lama. Ketahuilah, aku terus merindukanmu.

Iklan

6 thoughts on “Pernah Denganmu

    • hadeuh, nyentuh kali ya itu kata-kata 😀

      menurut Mbak sendiri banyak engga kata-kata yang salah dalam penulisan atau sebaginya di tulisan ini “Pernah Denganmu” ? Kalo ada, kasih tau ya, biar jadi pembelajaran juga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s