Untuk Adikku

“Kakak, aku lapar.” Rintih seorang lelaki kecil sambil memegang tangannya.
“Sabar ya, Dim. Mungkin sebentar lagi ibu dan ayah segera pulang untuk membawakan kita makan malam.” Jawab gadis kecil. Mungkin mereka kakak beradik. Terlihat jelas karena mereka begitu mirip.
Mereka menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya ada seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Adik kecil merasa girang, kemudian berlari menuju keluar. Ketika pintu itu ia buka, senyum yang penuh dengan penantian kemudian berakhir dengan kebingungan.
“Selamat malam, adik kecil.” Ujar seorang lelaki yang mengetuk pintu.
“Siapa yang datang ke rumah, Odim? Apa ibu dan ayah?” tanya sang kakak pada adiknya.
“Selamat malam. Bapak dari kepolisian, Dek. Bapak mau ngasih tahu kalo bapak dan ibu Adek sedang di rawat di Rumah Sakit. Apa adek-adek benar putra dari Bapak Rajiman?” tanya lelaki itu dengan ramah.
“Iya. Ayah sama ibu di rawat kenapa?” terlihat rona wajah yang tidak enak dari gadis itu. Odim yang merasa bingung kemudian memeluk kakaknya.
“Tadi siang ayah dan ibu Adek tidak sengaja tertabrak mobil yang melintas. Nama Adek siapa? Ayo ikut Bapak ke Rumah Sakit.”
“Nama saya Reni. Ini adik saya namanya Odim, Pak.”
Di sepanjang perjalanan Reni dan Odim hanya terdiam. Melihat keluar jendela mobil yang sudah gelap. Mereka takut dan sedih. Tapi mereka tahu bahwa Bapak-bapak ini adalah orang-orang baik.
Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata ayah dan ibu mereka sudah tidak dapat tertolong lagi. Mereka menangis sejadinya. Mereka bingung harus melakukan apa. Mereka tidak tahu dimana tempat saudara-saudaranya yang lain. Seingat Reni, ia hanya sekali pernah mengunjungi keluarganya, di Semarang.
“Pak Polisi, saya mau tanya. Boleh?” tanya Reni pada Polisi yang mengantarkannya ke Rumah Sakit.
“Iya, Dek. Mau tanya apa?”
“Biaya Rumah Sakit sama pemakaman ayah dan ibu saya, siapa yang bayar?” Ternyata itu yang Reni pikirkan. Dia bingung jika harus membayar biaya Rumah Sakit darimana. Dia tidak mempunyai uang.
“Tenang ya, Dek. Biayanya sudah ditanggung sama yang nabrak tadi. Adek sekarang mau Bapak anterin ke rumah saudara Adek apa engga? Atau ada nomor telepon yang bisa dihubungi?”
“Saya engga tahu, Pak. Saya hanya tinggal sama Adik saya.”
“Baiklah, Bapak antar kamu pulang saja ya. Ayah dan Ibu kamu akan dikuburkan esok pagi di TPU dekat rumahmu. Ayo pulang.”
Sepanjang malam Reni dan Odim hanya bisa menangis. Mereka merasa sedih dengan kepergian orangtua mereka. Odim yang sejak tadi merasa lapar, terus meminta kakaknya mencarikan sesuatu yang bisa ia makan.
Reni bingung harus memberikan apa pada Odim, karena ia tidak memiliki uang. Reni yang meminta Odim untuk tidur.
Esok harinya setelah Reni dan Odim menyaksikan tempat peristirahatan terakhir kedua orangtua mereka, Reni berjalan sedikit demi sedikit untuk mencari makan. Odim yang sedang sakit karena tidak makan dari kemarinpun tidak ingin ditinggalkan kakaknya sendirian. Dan akhirnya dengan sabar Reni menggendong adiknya itu.
Ia berjalan sedikit demi sedikit, mengamen kebeberapa tempat. Menginginkan mendapatkan sejumlah uang untuk adiknya makan.
Beberapa jam perjuangannya itu Reni hanya mendapatkan uang Rp 3.500. Dia kemudian berjalan ke sebuah warung nasi. Tapi ia melihat daftar makanan yang cukup mahal baginya.
Reni keluar dengan sedih, kemudian menuju sebuah warung. Ia membeli roti untuk adiknya yang sudah terlihat pucat. Odim terlihat sangat lahap memakan sebungkus roti itu.
Reni yang juga merasa lapar berusaha untuk terus bertahan untuk adiknya. Bagaimanapun kini Odim hanya memiliki dirinya seorang. Ia ingin selalu berada di dekat adiknya. Karena saat ini hanya Odim yang ia miliki.
Ketika Reni dan Odim berjalan untuk pulang, ada seseorang yang memanggil mereka dari belakang. Ternyata mereka adalah keuarga yang menabrak kedua orangtua mereka.
“Dek, Dek. Tunggu.”
“Iya, ada apa ya? Ibu ini yang sudah menabrak ayah dan ibu saya kan?” tanya Reni.
“Iya, Dek. Nama Ibu, Sely. Kami mau meminta maaf. Adek ini mau kemana? Apa ada keluarga Adek yang bisa kami hubungi, atau untuk sekedar mengantar Adek?”
“Tidak ada, Bu. Kami hanya sendiri di sini.”
“Kalau begitu Adek mau tinggal bersama kami?” tanya Ibu itu dengan ramah.
“Emm…”
“Gimana, Dek? Kami khawatir dengan kalian berdua. Ayo.”
Reni dan Odim kemudian naik ke dalam mobil. Mereka akan diangkat menjadi anak Ibu Sely. Reni dan Odim merasa senang karena Ibu Sely sangat ramah kepada mereka. Namun ketika sampai di rumah baru mereka, Reni merasa tidak nyaman. Reni merasa bahwa anak dari Ibu Sely tidak menyukainya. Mungkin karena ia takut posisinya tergantikan.
Reni ingin sekali kembali ke rumahnya yang dulu. Namun ia takut Odim akan menderita kembali. Reni menatap adiknya yang tertidur pulas di ranjang empuknya. Ia kemudian mencium kening adiknya kemudian beranjak dari tempat tidur. Reni keluar dari rumah Ibu Sely dan bermaksud kembali ke rumahnya yang dulu. Namun ketika ia berjalan keluar rumah, anak Ibu Sely mendorong Reni dari tangga dan kemudian terjatuh. Reni meninggal dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s