Masa Lalumu Masa Depanmu

Langkahku terhenti mengingat dialogku dengan seseorang mengenaimu. Aku ternyata sangat bodoh. Mudah sekali percaya dengan kebohongan yang kalian buat. Membual? Ya kalian melakukannya. Untuk apa? Aku tidak pernah ingin mengganggu kalian jika sebenarnya kalian punya rasa yang sama. Aku hanya bertanya, tapi kalian memberikan jawaban penuh dusta.

Pernah aku sangat percaya apa yang kalian katakan. Pernah juga sangat berharap kalian adalah hanya kalian yang berbeda. Tuhan membalikan semuanya, Tuhan membuka apa yang sebenarnya harus aku tahu tentang kalian. Kalian punya masa lalu yang indah, dan mungkin sampai saat ini kalian masih punya hari-hari yang indah bersama.

Aku melihatnya, bukan orang lain. Tidak ada lagi hasudan mereka tentangmu padaku. Ini real aku yang membukanya. Tuhan membantuku. Haruskah aku marah? Tidak, kalian memang pernah terjebak dalam masa lalu yang indah, tapi aku sadar, kalian juga akan kembali dan bergulat dalam masa depan.

Haruskah aku membongkar segalanya? Ketika aku sudah berjanji takkan mengatakannya. Haruskah aku membuang memori yang sudah kita ukir? Ketika aku yakin aku hanya mengharapkannya.

Bohong ! Kalian tidak pernah bertemu sebelumnya? Apa aku percaya? Tidak, sangat sangat tidak. Tak akan pernah ada masa lalu yang sangat indah antara kalian tanpa ada pertemuan. Aku yakin. Aku tidak sedungu apa yang kalian pikirkan.

Bohong ! Kalian tidak pernah punya hubungan apa-apa? Apa aku percaya? Tidak, sungguh kebohongan yang begitu jelas kulihat. Masa lalu yang indah? Hanya pertemanan yang tidak pernah diselingi pertemuan? Hanya pertemanan dari jejaring sosial? Bodoh ! Kalian terlalu bodoh mengarang cerita.

Masa lalumu adalah masa depanmu. Memorimu bersamanya adalah ceritamu sampai nanti bersamanya.

Apa aku pantas untuk disalahkan? Apa aku yang harus menyalahkan perbuatan kalian? Mendustai diri kalian sendiri itu adalah hal paling bodoh yang pernah aku tahu. Mendustai diri sendiri itu adalah menebar hama di kebun sendiri.

Ini bukan karena aku membencimu. Ini karena aku terlalu lelah menyimpannya. Kamu katakan cinta padaku berjuta kali. Tapi kamu juga katakan rindu dan sayang penuh cinta pada orang lain. Dan mereka tahu itu. Kini aku juga tahu itu. Aku membuat sesuatu hal untukmu, dan kamu berikan itu pada orang lain. Pantaskah itu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s