Aku Masih Sama

Terima kasih kita pernah punya banyak waktu bersama yang pernuh dengan tawa, penuh dengan suka yang aku tahu sangat jarang bisa kita dapatkan. Terima kasih kita pernah saling berbagi rasa tentang cinta, benci, rindu bahkan kesakitan. Saling menanti satu sama lain. Mengamati dan memberikan segala yang kita jaga.
Terima kasih kita pernah sangat percaya pada takdir dan mimpi kita untuk meraih kebahagiaan.

Ya, terima kasih, sayang. Aku sebenarnya masih ingin kisah ini berlanjut. Masih sangat sulit untukku melepaskanmu. Tapi Tuhan takkan pernah salah. Mereka menjadi jalan untuk kita agar saling memahami dan mengerti satu sama lain. Mereka menjadi jalan untuk kita saling belajar membagi waktu. Aku tahu itu, sayang.

Aku mengingatkan beberapa hal penting padamu.
Aku menyayangimu. Ketika sehat atau sakit pada ragamu. Pada jiwamu. Bahkan pada pikirmu. Aku menyayangimu, tak inginkan kamu sakit atau meradang menahan betapa perihnya yang kau rasakan. Aku khawatir tentang itu.
Aku mengharapkanmu. Ketika kamu tak tahu bahwa aku masih setia menunggumu. Ketika kamu pergi dan menjauh untuk mencoba menghibur keluargamu, aku masih di tempat yang sama mengharapkan kebahagiaanmu. Berharap ada senyuman yang bisa kamu bagi bersamaku.
Aku merindukanmu. Ketika kamu melangkah dan membuatku khawatir, membuatku menunggu. Ketika itulah rindu ini bergejolak. Aku ingin menjagamu, ingin selalu dekat bersamamu. Terasa sakit jauh darimu. Rindu menggerogoti seluruh organ dalam tubuhku. Karena rindu ini aku kuat dan bertahan untukmu.
Aku mencintaimu. Ketika kamu lebih memilih pergi dengan siapapun yang kamu rasa cinta. Ketika kamu lebih memilih marah padaku. Aku tetap cinta. Aku tetap menanti. Aku mencintaimu. Dan sangat bertambah cinta ketika aku katakan ‘I love You’. Dan sangat bertambah  cinta ketika aku tatap mata itu. Dan sangat bertambah cinta ketika kusentuh jemari itu. Aku mencintaimu.

LOVE 1,,

Andai engkau tahu. Saat ini. Ketika marah sudah kamu lontarkan keras kepadaku. Aku masih sama. Aku masih menyimpan segala rasaku dengan rapi untukmu. Rindu. Khawatir itu. Sayang ini. Bahkan cintaku. Tanpa benci aku tetap begini. Aku masih sama. Aku menunggumu kembali. Aku menantimu merubah arah haluan menjadi sangat mencintaiku. Aku menunggu.

Belum satu hari, tapi Tuhan kirim rindu dalam relungku. Aku bodoh jika tetap seperti ini. Tapi aku mati jika jauh seperti saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s