Kugenggam Kenangan

Lemah kutatap ia di hadapku. Aku tak mampu lagi menatapnya lebih lama dalam bayangan itu. Aku meleleh menyadari ada getaran yang buas dalam senyuman pahit itu.

Aku semakin menggila. Meradang tanpa sadar bahwa aku cinta. Meski takkan pernah mau berdusta, aku tahu aku masih memendam rasa. Entah pada siapa. Mungkin ia yang tengah menggenggam erat tanganku dalam duka.

Lembut ketika sentuhan itu menyentuh kulitku. Lemas terasakan dalam degupku. Kini ia tepat di sampingku. Menggenggam tanganku. Dan terkadang melirik sambil tersenyum simpul menatapku. Aku tersipu. Tahu bahwa aku suka hal itu. Tak terasa dan semakinlah aku larut dalam suasana, kenangan itu membuatku beku.

Kini ia sedikit melepaskan kehangatan itu, aku menolak keras dengan kembali meraihnya lagi. Kutatap ia dan kuyakinkan padanya tentang cinta ini. Aku menjerit dan meronta mengatakan ‘Aku mencintaimu dan sungguh inginkan semua terulang kembali’. Tapi aku salah, kuulur tangan itu menjauhi jemari. Aku ingat, aku yang membuangnya tahun lalu dalam sejati. Aku yang meracuni. Aku yang menabur duri. Kini tak mungkin aku yang juga harus memunguti.

Aku melangkah, mundur dari dekatnya. Dia mengikuti kemudian menahan tanda tak ingin aku menjauhinya. Aku berbisik, aku cinta. Aku menggenggam, aku suka. Aku ingat, semua tentang aku dan dia. Aku memejamkan mata, teringat kenangan bersama. Aku diam, aku tak mampu lagi menahan rasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s