Mimpi Pembangkit

Mimpi Pembangkit
@pujiepratiwi

    Dear Diary,
Terkadang mimpi itu selalu indah. Harapan juga terkadang begitu menggoda. Menggangguku ketika aku ingin fokus menjalani hidupku saat ini. Iya, terkadang terlintas harapan  ingin menjadi seperti para orang sukses, tapi tidak mau berusaha. Mau jadi pengusaha, tapi tidak mau bekerja. Mau dapat cinta sejati, tak kerjanya membagi hati. Mau jadi pimpinan yang tinggi, tapi sekolah tidak mau serius mencari budi.
Diary-Diary-Diary, aku hanya bisa menceritakan semua ini padamu. Selain Tuhan sebagai tempat aku mengadu. Jujur. Aku masih bingung dengan status hidupku. Ya, aku seorang mahasiswi. Tapi semua orang tahu, tidak ada yang namanya MAHA-siswi/MAHA-siswa yang kerjaanya makan, nongkrong, tidur, jalan-jalan, atau cuman bisa nelpon orang tua dan ngeluh, ‘Mah, Pah, jatah bulan ini abis.’ Argh.
Iri. Sangat iri. Diary, aku senang sekali belajar. Tapi aku hanya senang belajar ketika aku bahagia. Sekarang ini, aku tidak bahagia. Jangankan bahagia, cara bahagia saja aku bingung. Aku tidak tahu. Ingin sukses, tapi aku malas berusaha. Aku ingin tahu, tapi aku malas untuk membaca. Aduuuh. Berbeda dengan mimpiku tadi malam. Begini ceritanya.
Aku berjalan di sebuah hutan yang sangat gelap. Aku takut. Aku tersesat. Aku sendirian. Aku cuman bisa menangis dan berlari. Sampai suatu ketika aku ingat kalo aku belum berdoa. Sepanjang aku berlari di hutan itu, aku hanya menangis dan terus menangis. Berteriak sekencang-kencangnya meskipun aku tahu tidak ada orang lain di hutan itu kecuali aku. Sampai aku jatuh dan sadar, kesalahanku itu sepele sebenarnya. Aku hanya tidak berdoa.
Kemudian dengan penuh keputus asaan. Aku menghapus air mataku, aku menatap langit yang sangat gelap di mimpi itu. Aku mengangkat kedua tanganku kemudian aku berdoa, “Ya Allah, betapa sombongnya aku. Betapa aku tidak sedikit pun mengingat nama-Mu. Aku berdosa, Ya Allah. Ampuni aku. Hentikan penderitaan ini. Aku ingin kembali berada di jalan-Mu, ingin kembali ke dalam kehidupanku, karena aku menyesal dan aku ingin memperbaikinya.”
Dan Tuhan memang selalu dekat. Kemudian seseorang menyentuh pundakku dengan cahayanya. Dia membangunkanku.
Diary, itu mimpi yang sangat indah. Itu mimpi yang sangat membuatku sadar. Mimpi yang Tuhan kirim agar aku mengerti jalan hidupku. Saat ini kebingungan yang terkadang begitu menghimpitku. Kebingungan tentang siapa diriku, akan jadi apa aku, perlahan hilang. Aku sadar. Orang tuaku telah memberikanku jalan agar aku bisa menjadi manusia seutuhnya. Segala yang telah mereka berikan padaku seharusnya selalu aku manfaatkan sebaik-baiknya. Tidaklah seperti hari-hari kemarinku yang buruk, yang penuh dengan kebingungan akan status hidupku.
Dan hari ini, kemudian hari-hari yang akan datang. Akan ada hari dimana aku bisa menjadi diriku. Aku bisa mengembangkan bakatku. Aku bisa menggali potensi. Aku bisa mewujudkan semua impian-impianku. Aku ingin selalu bisa membahagiakan kedua orang tuaku, kakakku, keluarga besarku, dan semua teman juga guruku.
Diary, hidup itu adalah pilihan. Dan ini adalah pilihanku. Kebingunganku waktu lalu adalah jalan Tuhan untuk membuatku belajar dan mengerti bahwa ada saat dimana aku terjatuh, dan kemudian bangkit menjadi seseorang yang tangguh.

(Pernah mengikuti lomba #MyDream dari @divapress01) 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s