Sahabat? Siapa Lagi Selain Dia?

Aku punya satu sahabat yang sejati dan sudah lama ini tetap setia menjadi sahabat dalam hidupku. Sahabat dalam suka dan dukaku. Ia menjagaku, memberikan segala yang ia punya padaku. Kita sangat baik dalam segalanya, dia mengerti sifatku, dia membuatku lebih baik, dia mengajarkanku segalanya dalam hidup.

Aku cinta dia. Sahabat yang paling sempurna aku pikir. Tak pernah lagi ada orang yang benar-benar setulus dia. Dan aku hanya punya dia saat ini. Setelah persahabatanku yang tak pernah-pernah berakhir indah. Kadang marah, kemudian mejauh.

Satu hari aku sadar. Aku tak punya teman dekat lain selain sahabatku yang satu ini. Setiap harinya aku hanya menunggu dia. Jauh, dekat, aku tetap menunggunya. Lama, sebentar, itu makanan sehari-hariku ketika menunggunya. Tanpa aku sadari aku butuh orang lain. Aku takut kebahagiaan ini kemudian berubah menjadi rasa bosan.

Aku berpikir, ternyata sungguh sepi hidupku. Selain dia, tak lagi ada teman sejati dalam hidupku. Tak terhitung banyaknya temanku, dimanapun aku punya teman. Tapi sahabat? Siapa lagi selain dia? Tak ada. Aku menangis dalam hatiku.

Sepi. Hampa. Ya, aku merasakan itu saat ini. Sebenarnya sempat benar-benar terluka karena sahabat. Dibohongi, diadu domba, ditinggalkan, semua telah aku rasakan. Tapi hidupku lebih berarti jika ini pernah terjadi. Yang paling kusesalkan waktu itu, aku kehilangan dua sahabatku, aku kehilangan kesetiaan lelaki pula. Oh Tuhan, sungguh itu tahun paling berat dalam hidupku.
Pernah pula aku temukan sahabat lain, tak ayal mereka juga membohongiku. Alasannya tak ingin aku lebih dari sakit lagi. Tapi sesungguhnya itu yang lebih menyakitkan. Lalu kutemukan lagi mereka yang pernah pergi, namun waktu memisahkan kembali.

Lalu pernah juga setelah aku temukan sahabat lain yang aku pikir penuh dari kesempurnaan. Tak salah lagi ia juga membohongiku, kemudian pergi, entah apapun itu alasannya aku pikir itu salah. Tapi aku yakin, aku egois memaknai segala kasus persahabatan dalam hidupku. Seharusnya aku tak hanya pandang satu sisi rumit dalam masalahku, tapi satu sisi lain yang gelap dalam otakku.

Inilah saat-saat sulit dalam hidupku. Aku mampu lebih dari seharian memikirkan kasus dengan sahabat terakhirku. Dia memberiku harapan tentang persahabatan sejati, tapi kemudian dalam satu detik dia menghancurkannya.

Kini aku tatap dunia dengan satu lagi sahabatku. Sahabat yang paling aku cinta. Sahabat paling tampan yang pernah aku duga. Dia menjadi saksi tentang air mata yang pernah aku jatuhkan. Saksi tentang senyuman yang aku torehkan. Saksi tentang usahaku, kecewaku, penantianku dan segalanya. Dia sahabat paling sejati. Yang menantiku ketika aku pergi, yang menjenguk dan menjagaku ketika aku sakit.

Tetaplah jadi sahabatku, kekasihku, temanku, keluargaku, lelakiku, kesetiaanku, cintaku, kerinduanku, dan sejatiku. Aku menyayangimu.

Iklan

2 thoughts on “Sahabat? Siapa Lagi Selain Dia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s