Memulai Kembali

Melanjutkan tulisan saya di 2 postingan sebelumnya, yaitu Berpindah dan Berpindah (2).

Kali ini saya ingin menceritakan betapa memulai sesuatu hal yang baru, dengan tempat dan orang berbeda itu sulit.

Saya tidak tahu sikap saya ini masuk kedalam kategori apa. Yang jelas saya amat sangat malas memperkenalkan diri, menjelaskan hidup saya, mengungkit sejarah atau apa saja yang saya lakukan.

Saya tidak tahu, ini sebuah kelainan, atau masalah psikologis biasa.

Saya tidak bisa disebut seorang introvert, karena saya senang berhubungan dengan orang, berbicara di tempat umum, menjelaskan dan berkomunikasi dengan siapapun. Saya pikir, saya masuk kedalam kategori ekstrovert.

Tapi, saya malas, sungguh saya seorang pemalas. Di waktu-waktu tertentu, katakanlah sebuah seminar atau hanya pemateri palsu, saya sanggup dengan mudah menyesuaikan diri saya. Anehnya, sangat sulit jika itu harus menjadi keseharian.

Sekarang saya tidak mau mencontohkan segalanya kepada pekerjaan saya saat ini.

Saya akan menceritakan betapa saya malas memulai kembali, ya, sebuah hubungan, bisa jadi, percintaan. Kisah cinta di hidup saya tidak semudah orang-orang bergonta-ganti pasangan, putus satu tumbuh seribu. Ya, saya tidak.

Menurut saya, tidak ada cinta pada pandangan pertama. Cinta itu tumbuh dari proses dimana seluruh indera kita merasakan kenyamanan ketika bersama seseorang. Itulah cinta menurut saya.

Maka, tidak ada namanya melupakan dengan cepat, mencintai dengan sekejap. Semuanya butuh proses.

Dari situlah, saya, manusia pemalas ini selalu malas memulai kembali sebuah hubungan. Saya cenderung akan mempertahankan, menjaga, dan memperbaiki jika sesuatu tengah rusak, salah, atau retak.

Kini, semua kembali pada Anda. Apakah Anda mau berpindah ke lain hati dan memulai kembali?

Iklan

Berpindah (2)

Siapa yang suka perpisahan? Siapa yang senang meninggalkan orang-orang yang sudah membuatmu nyaman? Siapa yang bangga terus melalukan perpindahan?

Saya? Tidak.

Saya berpikir. Saya tidak akan mampu jika harus melakukan perpindahan di setiap waktu. Maksud saya, saya tidak bisa menetap di suatu tempat untuk waktu yang cukup lama secara berulang.

Contohnya, tahun 2013 saya tinggal di daerah Neglahilir. Saya memiliki teman dekat setelah lebih dari tiga bulan. Lalu 2015 saya pindah ke daerah Ledeng. Saya harus memulai mencari teman.

Contoh lainnya. Tahun 2017 saya bekerja di sebuah lembaga A, tapi tahun 2018 saya harus pindah ke lembaga B.

Kamu tahu bagaimana semua itu terjadi? Semua adalah perpindahan, semua adalah hal yang menurut saya menyusahkan. Mengapa susah? Karena saya risih dengan perkenalan, menyesuaikan diri dari awal, membagi cerita lagi dari awal. Saya merasa tidak mampu untuk itu.

Mungkin sebagian orang berpikir, “Halah, pindah mah pindah aja, gampang kok.” Jawabannya, Ya, pindah itu mudah, tapi menyesuaikannya yang susah.

Apa alasan saya merasakan semua itu? Jawabannya karena saya tidak mudah jatuh pada sesuatu, saya terlalu perasa akan sesuatu, saya terlalu larut akan segalanya, saya sulit apabia harus melepasnya.

Itu bukan kelebihan. Itu adalah kekurangan. Itu adalah hal yang paling menakutkan.

Saya lebih suka travelling sendirian, daripada pindah juga sendirian.

Pindah lagi? Saya pikir, tidak, terimakasih.

Berpindah

Menyesuaikan diri dengan dunia dan tempat yang baru itu tak semudah yang dibayangkan. Dari tempat yang sudah senyaman rumah, seketika berubah menyeramkan.

Kita butuh proses beradaptasi. Sedangkan adaptasi itu terkadang membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk sebagian orang. Bersyukurlah dengan orang yang memiliki kemampuan adaptasi yang cepat.

Kamu tahu? Adaptasi bagi sebagian orang bagaikan sebuah rumah kosong yang harus kamu isi mulai dari bagian depan, dalam, dan belakang. Kamu harus bermuka baik dan indah agar orang menilaimu juga baik. Lalu kamu harus belajar menawarkan diri agar siapapun mau masuk ke dalam rumahmu, mengenal isinya yang kadang baik, atau bahkan masih kosong akan perabot juga pengalaman. Dan untuk sebagian orang yang masuk, akhirnya akan melihat bagian belakang rumahmu, yaitu masa lalu.

Kamu tahu seberapa sulitnya adaptasi berjalan? Itu bagaikan berjalan di keramaian, tapi kamu merasa kesepian. Semua bagaikan berteriak, di tengah kebisingan.

Adaptasi bagai momok yang menakutkan. Takut kamu tidak bisa beradaptasi, takut semua menolak kehadiranmu, mengusir datangnya kamu di lingkungan itu.

Iya, adaptasi adalah berpindah dari satu masa, berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi kamu harus, kamu harus melakukannya.

Apa yang lebih menyedihkan dari keharusan yang sebenarnya tidak kamu inginkan? Contohnya, berpindah.

Cemburu?

Aku memimpikanmu bersama orang lain. Padahal itu adalah tempatku. Melihatmu mengantarkannya pulang bersama sekotak rokok. Kamu membukakannya pintu mobil, mempesilahkannya masuk, menyapanya dengan senyum.

Aku memimpikanmu bersama orang lain. Padahal ada aku di situ. Melihatmu mengecup pipinya ketika bercanda, menggenggam tangannya dengan mesra, menatapnya penuh makna.

Aku memimpikanmu bersama orang lain. Padahal kita bukan siapa-siapa. Mungkinkah aku rindu? Ataukah aku tengah cemburu?

Perih

I miss you.

Pahamkah kamu apa yang aku katakan itu? Tahukah kamu apa artinya itu? Mengertikah kamu bagaimana rasanya itu?

Perih, itu adalah jawabannya.

Semua akan tetap sama, ketika aku hanya terdiam memikirkan kapan waktu akan berhenti walau sekejap ketika kita bersama. Semua akan tetap sama, ketika aku hanya meratapi nabis rinduku yang semakin luar biasa. Semua akan tetap sama, ketika aku hanya mengirim sinyal dan isyarat agar kamu datang menyapa.

I miss you.

Aku merindumu.

Semuanya menusuk setiap langkah kakiku. Semuanya memaki di gendang telingaku., Semuanya memukul setiap detak di jantung dan pikirku. Semuanya menyulitkanku.

Ibu

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu setiap doa yang ia ucapkan. Aku rindu mendengar ia berkata “Semoga” dan “Hati-hati”.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu mengecup tangannya. Tak peduli seberapa kasar atau keriput tangannya. Karena ku tahu, itu adalah tanda dari sekian banyak perjuangan hidupnya.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu berbicara dengannya. Di waktu apapun, di tempat manapun, sesibuk apapun, selelah apapun, apalagi sesakit apapun, ia akan selalu menjadikan hal pertama di hidupnya.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu melakukan banyak hal dengannya. Bahkan hanya melihatnya tersenyum, tertawa, atau hanya sekedar tertidur.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu selaganya.

Seseorang

Aku akan bercerita, tentang beberapa memori indah tentang menyenangkan masa-masa kuliah. Ya, bukan tentang kuliah dalam arti sesungguhnya, tapi kuliah di jam kuliah. Haha.

Semua terasa indah. Ketika pulangku ditunggu seseorang. Ketika jalanku ditemani seseorang. Atau bahkan hari-hariku selalu penuh pesan dari seseorang.

Semua terasa indah. Meski pernah penyakit mengganggu hariku. Tapi tetap indah, karena ditemui seseorang.

Aku akan bercerita. Ketika saat-saat indah berubah menjadi kebingungan. Dimana bertemu adalah sebuah hal yang langka. Bertemu adalah ujian di akhir semester. Bertemu adalah Ramadhan di setiap tahun. Iya, bertemu itu begitu menyulitkan.

Dulu, aku baru tahu rasanya jatuh cinta begitu singkat. Tidak butuh satu bulan. Satu pertemuan pun selalu berkesan.

Dulu, dekatpun tidak cukup. Aku butuh waktu dan hangat yang tidak bisa aku dapatkan dari manapun. Aku butuh teman dari lelahnya hariku. Aku butuh seseorang dari nikmatnya santapanku.

Dulu, tidak ada malam, tidak ada siang. Semuanya adalah kamu. Semuanya adalah rindu.

Dulu, ketika sabar telah aku lewati. Seseorang tidak bisa menjaga hati. Dia lama pergi. Dia sedikit menetapi.

Dulu, pulang adalah keindahan yang selalu dinanti. Tapi kini pulang pun tak ada arti.

Dulu, aku percaya pada cinta. Aku percaya semua berakhir manis. Aku percaya halangan tak akan menjadi masalah. Tapi kini semua hanya memori. Tapi kini semua penuh emosi.

Aku akan bercerita. Begitu aku sedikit rindu. Begitu aku sedikit cemburu. Dia tidak kembali menjadi milikku. Malah menjadi abu.