Khawatirmu

Khawatirmu, tak lebih dari sendiriku
Yang pernah merangkak dalam air mata
Pernah juga mengemis dalam debu
Atau meronta dalam derita

Khawatirmu, tak lebih dari pengorbananku
Yang pernah berenang-renang dalam setia
Pernah juga berpanas-panas dalam rindu
Atau berduka dalam dusta

Bandung, 05 April 2016

Iklan

Aku tidak

Haha dan aku mengatakan akan pergi kemana, aku mengatakan bahwa aku sudah pulang. Dia marah pernah ada saatnya aku pergi tanpa bilang, dan dia kesal karena harus menunggu tanpa kabar. Lalu aku harus mengerti, padahal dia tidak selalu bilang kemana dia pergi, selalu membuatku menunggu tanpa kabar. Sedangkan aku harus mengerti, padahal aku tidak akan pernah melarang, aku tidak akan pernah marah. Kenapa dia tetep marah dengan KELICIKAN itu? Memang wanita yang seharusnya menunggu, laki-laki jangan. Memang wanita dengan sedikit kesibukannya harus mengerti, laki-laki tidak usah. Tapi kenapa, di luar sana masih ada wanita yang terlalu protektif, terlalu mengekang, tapi hubungan itu tetap berjalan. Dan aku tidak.

Aku temukan tulisan ini di sosial mediaku, tertanggal 21 April 2016, 04.31 WIB.

Percakapan Pagi

[1/21, 08:06] Pengen bilang selamat pagi
[1/21, 08:25] Pagi tidak sedingin menunggumu pulang membawa sekotak martabak.

[1/21, 08:27] Pagi membiarkan ku terlelap, lupa akan berita kau dengan yang lain.

[1/21, 08:34] Pagi menjadikanku terdiam melihat meja makan dengan dua kursi, tapi aku duduk sendiri.

[1/21, 08:52] Pagi ini aku mulai dengan meminum teh. Biasanya aku mulai dengan merindukan mu

[1/21, 08:54] Pagi apa yang paling indah? Yaitu ketika ku buka pintu rumahku, dan ku lihat ada kamu.
[1/21, 09:02] Pagi apa yang sangat indah? Yaitu ketika ku sentuh pipimu dan menyuruhmu sholat subuh.

Belum Lupa?

Hari ini hidup terasa sungguh menyesakkan. Berpura-pura berbahagia dengan seseorang yang terlihat sungguh setia luar biasa. Memasang raut kebahagiaan di setiap perjumpaan. Tapi memendam rindu pada orang yang berbeda.

Memikirkannya saja sudah sesulit ini. Seakan melihat semua pria berwajah sama. Selalu di semua sisi dan hari. Apakah ini artinya wanita ini masih punya rasa?

Belum lupa?

Pernah berjalan menyusuri tingginya gunung bersama. Menapaki jalan terjal dengan bahagia. Melupakan lelah yang sebenarnya sungguh terasa. Menjadikan itu tidak bisa lupa.

Belum lupa?

Pernah bertemu di setiap pagi. Menikmati embun yang selalu menyelimuti. Tiada hari tanpa sepi. Semua sempurna penuh arti.

Dulu

Dulu, aku pernah berada di sampingmu. Mungkin cukup dekat, hingga jarak tidak lagi terasa. Tapi merasakan perihnya mendengar suara seorang wanita.

Iya, dulu, pernah seseorang meneleponmu. Mengatakan betapa ia merindukanmu. Dengan suara seperti anak kecil butuh induknya, dia menangis meminta sebuah temu.

Iya, dulu, percakapan itu membuatku menjauh. Beberapa langkah dari sisinya. Takut perang dunia ketiga terjadi, jika si wanita mengetahui.

Iya, dulu, aku tidak datang sebagai wanita butuh lelaki. Aku datang karena undangan menjebak dari si hati. Bukan berniat kembali, hanya entah mengapa semua terjadi.

Iya, dulu, entah cemburu atau hanya panas hati. Atau keduanya mungkin punya satu arti. Aku tidak suka melihat aku telah terganti.

Iya, dulu.

Sibuk

Aku lebih suka menyibukan diri dengan banyak hal. Baik itu berguna ataupun tidak. Menghasilkan atau hanya sebagai hiburan.

Aku lebih suka menyibukan diri dengan banyak hal. Membuat badan ini bergerak dengan aktivitas yang sebenarnya sungguh melelahkan. Membuatku tidak merasa kesepian.

Aku lebih suka menyibukan diri dengan banyak hal. Agak banyak hal yang aku lupakan. Baik kisah menyebalkan atau bahkan menyedihkan.

Bulan

Mengapa bulan selalu terlihat indah dari kejauhan. Begitu mengagumkan ketika bersinar di gelapnya malam sendirian.

Mengapa bulan selalu banyak yang menginginkan. Begitu dipuja dan banyak yang mengharapkan.

Mengapa bulan selalu sulit ditemui. Begitu penuh rintangan yang harus dihadapi.

Mengapa bulan selalu tinggi dan tidak bisa aku dapati. Begitu jauh hingga mungkin harus diakhiri.