Cemburu?

Aku memimpikanmu bersama orang lain. Padahal itu adalah tempatku. Melihatmu mengantarkannya pulang bersama sekotak rokok. Kamu membukakannya pintu mobil, mempesilahkannya masuk, menyapanya dengan senyum.

Aku memimpikanmu bersama orang lain. Padahal ada aku di situ. Melihatmu mengecup pipinya ketika bercanda, menggenggam tangannya dengan mesra, menatapnya penuh makna.

Aku memimpikanmu bersama orang lain. Padahal kita bukan siapa-siapa. Mungkinkah aku rindu? Ataukah aku tengah cemburu?

Iklan

Perih

I miss you.

Pahamkah kamu apa yang aku katakan itu? Tahukah kamu apa artinya itu? Mengertikah kamu bagaimana rasanya itu?

Perih, itu adalah jawabannya.

Semua akan tetap sama, ketika aku hanya terdiam memikirkan kapan waktu akan berhenti walau sekejap ketika kita bersama. Semua akan tetap sama, ketika aku hanya meratapi nabis rinduku yang semakin luar biasa. Semua akan tetap sama, ketika aku hanya mengirim sinyal dan isyarat agar kamu datang menyapa.

I miss you.

Aku merindumu.

Semuanya menusuk setiap langkah kakiku. Semuanya memaki di gendang telingaku., Semuanya memukul setiap detak di jantung dan pikirku. Semuanya menyulitkanku.

Ibu

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu setiap doa yang ia ucapkan. Aku rindu mendengar ia berkata “Semoga” dan “Hati-hati”.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu mengecup tangannya. Tak peduli seberapa kasar atau keriput tangannya. Karena ku tahu, itu adalah tanda dari sekian banyak perjuangan hidupnya.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu berbicara dengannya. Di waktu apapun, di tempat manapun, sesibuk apapun, selelah apapun, apalagi sesakit apapun, ia akan selalu menjadikan hal pertama di hidupnya.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu melakukan banyak hal dengannya. Bahkan hanya melihatnya tersenyum, tertawa, atau hanya sekedar tertidur.

Apa yang lebih dirindukan dari seorang ibu? Yang ku tahu, aku rindu selaganya.

Seseorang

Aku akan bercerita, tentang beberapa memori indah tentang menyenangkan masa-masa kuliah. Ya, bukan tentang kuliah dalam arti sesungguhnya, tapi kuliah di jam kuliah. Haha.

Semua terasa indah. Ketika pulangku ditunggu seseorang. Ketika jalanku ditemani seseorang. Atau bahkan hari-hariku selalu penuh pesan dari seseorang.

Semua terasa indah. Meski pernah penyakit mengganggu hariku. Tapi tetap indah, karena ditemui seseorang.

Aku akan bercerita. Ketika saat-saat indah berubah menjadi kebingungan. Dimana bertemu adalah sebuah hal yang langka. Bertemu adalah ujian di akhir semester. Bertemu adalah Ramadhan di setiap tahun. Iya, bertemu itu begitu menyulitkan.

Dulu, aku baru tahu rasanya jatuh cinta begitu singkat. Tidak butuh satu bulan. Satu pertemuan pun selalu berkesan.

Dulu, dekatpun tidak cukup. Aku butuh waktu dan hangat yang tidak bisa aku dapatkan dari manapun. Aku butuh teman dari lelahnya hariku. Aku butuh seseorang dari nikmatnya santapanku.

Dulu, tidak ada malam, tidak ada siang. Semuanya adalah kamu. Semuanya adalah rindu.

Dulu, ketika sabar telah aku lewati. Seseorang tidak bisa menjaga hati. Dia lama pergi. Dia sedikit menetapi.

Dulu, pulang adalah keindahan yang selalu dinanti. Tapi kini pulang pun tak ada arti.

Dulu, aku percaya pada cinta. Aku percaya semua berakhir manis. Aku percaya halangan tak akan menjadi masalah. Tapi kini semua hanya memori. Tapi kini semua penuh emosi.

Aku akan bercerita. Begitu aku sedikit rindu. Begitu aku sedikit cemburu. Dia tidak kembali menjadi milikku. Malah menjadi abu.

Kapan?

Baru satu hari. Baru 24 jam. Aku tidak tahu nanti harus berapa hari sekali, atau harus berapa puluh jam sekali. Aku tidak tahu harus melakukan apa, menghabiskan waktu dengan apa, memikirkan apa, meratapi hidup seperti apa, menjalankannya dengan bagaimana.

Mungkin kadang kamu bosan, menemukanku ada di tempatmu. Menunggu, meski kadang kita kehabisan pikir harus melakukan apa bersama. Tapi senang, aku puas, karena tidak dalam rasa khawatir berlebih.

Aku tahu, semua akan sangat indah pada waktunya. Meski kita sama-sama tidak tahu waktunya. Kita hanya bisa berusaha diantara waktu dan kata percaya.

Kapan bisa aku tidak memikirkanmu? Tidur pun tidak senyaman ketika menyentuhmu. Pulang pun tidak sebahagia ketika menunggumu. Makan pun tidak senikmat ketika bersamamu.

Kapan harus tidak memikirkanmu? Bahkan benci meninggalkanmu. Bahkan kesal harus tidak berada di dekatmu.

Kapan waktu yang paling indah selain ketika pulangku adalah menuju padamu. Kapan waktu paling indah ketika hidupku tidak lebih dari melayanimu.

Aku tidak benci waktu. Tidak juga benci jarak. Aku hanya benci tahu kalau aku memikirkan semua ini.

I already miss you.