Ruangan Ini

Tempat ini tengah menjadi bukti. Hampir satu jam lamanya kita diam tanpa kata. Hanya melontarkan kata yang sesungguhnya itu sangat tak harus.
Tempat ini tengah menjadi saksi. Saksi tentang kesunyian yang sedang terjadi. Ya, ruangan ini.

Sahabat? Siapa Lagi Selain Dia?

Aku punya satu sahabat yang sejati dan sudah lama ini tetap setia menjadi sahabat dalam hidupku. Sahabat dalam suka dan dukaku. Ia menjagaku, memberikan segala yang ia punya padaku. Kita sangat baik dalam segalanya, dia mengerti sifatku, dia membuatku lebih baik, dia mengajarkanku segalanya dalam hidup.

Aku cinta dia. Sahabat yang paling sempurna aku pikir. Tak pernah lagi ada orang yang benar-benar setulus dia. Dan aku hanya punya dia saat ini. Setelah persahabatanku yang tak pernah-pernah berakhir indah. Kadang marah, kemudian mejauh.

Satu hari aku sadar. Aku tak punya teman dekat lain selain sahabatku yang satu ini. Setiap harinya aku hanya menunggu dia. Jauh, dekat, aku tetap menunggunya. Lama, sebentar, itu makanan sehari-hariku ketika menunggunya. Tanpa aku sadari aku butuh orang lain. Aku takut kebahagiaan ini kemudian berubah menjadi rasa bosan.

Aku berpikir, ternyata sungguh sepi hidupku. Selain dia, tak lagi ada teman sejati dalam hidupku. Tak terhitung banyaknya temanku, dimanapun aku punya teman. Tapi sahabat? Siapa lagi selain dia? Tak ada. Aku menangis dalam hatiku.

Sepi. Hampa. Ya, aku merasakan itu saat ini. Sebenarnya sempat benar-benar terluka karena sahabat. Dibohongi, diadu domba, ditinggalkan, semua telah aku rasakan. Tapi hidupku lebih berarti jika ini pernah terjadi. Yang paling kusesalkan waktu itu, aku kehilangan dua sahabatku, aku kehilangan kesetiaan lelaki pula. Oh Tuhan, sungguh itu tahun paling berat dalam hidupku.
Pernah pula aku temukan sahabat lain, tak ayal mereka juga membohongiku. Alasannya tak ingin aku lebih dari sakit lagi. Tapi sesungguhnya itu yang lebih menyakitkan. Lalu kutemukan lagi mereka yang pernah pergi, namun waktu memisahkan kembali.

Lalu pernah juga setelah aku temukan sahabat lain yang aku pikir penuh dari kesempurnaan. Tak salah lagi ia juga membohongiku, kemudian pergi, entah apapun itu alasannya aku pikir itu salah. Tapi aku yakin, aku egois memaknai segala kasus persahabatan dalam hidupku. Seharusnya aku tak hanya pandang satu sisi rumit dalam masalahku, tapi satu sisi lain yang gelap dalam otakku.

Inilah saat-saat sulit dalam hidupku. Aku mampu lebih dari seharian memikirkan kasus dengan sahabat terakhirku. Dia memberiku harapan tentang persahabatan sejati, tapi kemudian dalam satu detik dia menghancurkannya.

Kini aku tatap dunia dengan satu lagi sahabatku. Sahabat yang paling aku cinta. Sahabat paling tampan yang pernah aku duga. Dia menjadi saksi tentang air mata yang pernah aku jatuhkan. Saksi tentang senyuman yang aku torehkan. Saksi tentang usahaku, kecewaku, penantianku dan segalanya. Dia sahabat paling sejati. Yang menantiku ketika aku pergi, yang menjenguk dan menjagaku ketika aku sakit.

Tetaplah jadi sahabatku, kekasihku, temanku, keluargaku, lelakiku, kesetiaanku, cintaku, kerinduanku, dan sejatiku. Aku menyayangimu.

Lemah atau Bosan

Bukan alasan ketika seseorang katakan, “Kamu terlalu baik untukku.”
Bukan alasan ketika seseorang katakan, “Kita udah engga cocok.”
Dan masih banyak lagi..

Sebenarnya tidak pernah ada alasan seperti itu. Tidak akan pernah ada alasan itu ketika semua terasa baik. Mungkin mereka yang mengatakannya hanya sedang kehilangan ingat. Bahkan tak ayal orang-orang kemudian merengek meminta kembali, meminta kata-kata mereka dicabut kembali.

Yah, waktu tak akan pernah terulang kembali. Mungkin hanya satu yang terasa terulang lagi, itu hanya deja vu.

Ketika seseorang katakan itu, tanda satu hal tentang kepribadiannya. Apakah dia lemah, hingga tak mampu untuk menatap masa depan. Ia lemah, sehingga kalah sebelum berperang. Atau hal lain. Yaitu dia sudah menemukan kata lain dalam hubungan. Bosan.

Lembab

Ruang ini terasa pengap
Lembab
Ruang ini tak jauh beda dari penjara
Gelap
Ruang ini terlalu nyaman aku tinggali
Sepi

Lembab. Air itu membuat segalanya begitu lembab. Ruang ini tak lebih dari hanya ruang penuh pengap. Tak jauh berbeda dari penjara bawah tanah. Tanpa udara, tanpa cahaya.
Lembab. Ruang ini benar-benar membuatku sesak. Kupandang sudut dibelakangku. Ada sesuatu yang begitu mengganggu. Kupandang dinding ruang ini. Ada gambar menakutkan. Kupandang langit-langit ruang itu. Tidak ada benda bulat yang bisa memberikan cahaya, hanya ada bekas rembesan air.
Lembab. Ruang ini tanpa penunggu. Ruang ini tanpa pemilik. Kosong.
Lembab. Dan ternyata ini memang masih begitu lembab. Banyak orang berkata, banyak orang yang berbicara. Ruang ini penuh dengan cerita. Kadang tentang tawa, tapi juga luka.
Lembab. Dan kini aku harus menempati. Lembab. Dan aku tak pernah merasa nyaman. Hanya dingin yang aku rasakan.
Tapi kini hangat.
Ketika api membakar ruang ini. Tepat bersama seluruh isinya. Kemudian aku ganti dengan seluruh hidupku.

Takdir Hujan Mengguyur Kepala

Sakit. Kepala saya sakit.
Saat dimana saya kehilangan kesadaran. Bermain-main di tengah derasnya hujan. Orang berkata, “Jika kamu terluka, berlarianlah di tengah hujan yang deras.”
Tidak mengerti memang. TapiĀ  sadarkah? Itu benar, ketika kesakitan kita rasakan, mungkin air hujan bisa membawanya mengalir. Ketika seluruh badan kita basah, maka bersih sudah kesedihan kita, karena hujan membawanya. Haha.

Sakit. Kepala saya sakit.
Ketika hujan membasahinya, ketika dengan takdirnya hujan mengguyur saya. Saya sadar. Ketika mungkin air mata saya bisa larut bersama air hujan, ketika itulah hal lain muncul. Sakit kepala. Haha

Sakit. Kepala saya sakit.
Bahkan rasanya tak ingin berkata-kata. Malas melangkah. Malas melakukan segalanya. Hanya ingin tidur. Tapi ternyata tidurpun tak menjadi solusi. Kepala saya sakit. Haha