Menulis

Sudah lama rasanya tak mengungkapkan perasaan yang bersarang dengan tulisan. Kemudian mempostingnya di tempat-tempat pribadi, contohnya Sepedaterbang ini. Sudah lama rasanya, sampai aku tidak ingat kapan terakhir aku merasa ingin sekali menulis, sangat lama aku pikir.

Menulis, iya menulis, adalah sebuah tempat terindah yang akan selalu siap. Siap untuk dimarahi, dicaci maki, bahkan dikatai semua hal buruk. Tapi juga sangat siap untuk mendengar cerita indah, cinta, rindu, kenangan-kenangan manis, juga semua berita bahagia. Menurutku, menulis itu lebih penting dari berbicara.

Tapi sudah hampir enam bulan ini, aku jauh dengan menulis. Tak ingat bahwa aku punya sahabat sejati yang pasti merindukan semua keluh kesahku, baik tentang keluarga, teman, kekasih, atau mungkin hanya ocehan-ocehan tak penting lainnya. Sungguh, aku meminta maaf atas kekhilafanku padamu, menulis.

Bohong sekali sebenarnya jika aku sangat melupakan menulis, karena mungkin setiap hari aku tak lepas dari menulis pesan singkat (SMS), atau mungkin sekedar chat, oh ya update status di Facebook misalnya, itu adalah menulis juga. Tapi sayangnya semua itu tak terlalu berkualitas, seberkualitasnya menulis dengan serius apa yang aku rasakan hingga menjadi sebuah karya.

Satu pesan, jika satupun orang mungkin tak bisa mendengarkanmu secara langsung, cobalah kau tulis apapun itu. Hingga suatu saat tulisan itu bisa mengingatkanmu atau bahkan bisa menuntunmu kepada suatu arah.

 

Ketidak-tenangan

Apa sesungguhnya yang telah terjadi, Tuhan? Aku tak pernah mengerti ada apa dengan raga ini yang terus saja merasakan sebuah ketidak tenangan yang sangat. Aku merasa kesepian, terkadang begitu merasa sepi, dan kadang begitu terluka.
Aku ingin menangis, ingin berteriak tenang ketidak tenangan ini. Aku tak sadar dengan apa yang tengah terjadi pada raga ini. Mungkin iya ini terjadi pula pada jiwaku, Tuhan. Aku ingin melepaskannya.
Ini terasa aneh, terasa tebayang-bayangin sesuatu yang mungkin tidak pernah ada. Maafkan aku, Tuhan, jika ini menyangut masa lalu dan dosaku yang pernah terjadi, penah aku buat kesalahan. Maafkan aku, jika ini benar-benar kesalahanku dan Engkau inginkan aku menyadarinya, mengingat terus pada-Mu.

Kambing ‘Love’ Kuda

Kambing, sejak kapan kuda bisa jatuh cinta sama kambing? Sejak kapan kambing bisa ngajak pacaran sama kuda? Sejak kapan?
Sejak kapan kambing bisa ketawa-ketawa bareng kuda sambil ujan-ujanan bareng? Dan sejak kapan kambing bisa dengan leluasanya megang tangan kuda dimanapun itu tempatnya? Sejak kapan?
Sejak kapan kambing bisa rajin banget SMS kuda buat nyuruh makan? Sejak kapan kuda bisa marah gara-gara kambing dideketin makhluk yang dinamakan ‘wanita’? Sejak kapan kuda suka nangisin kambing? Dan lagi, sejak kapan kambing suka cemburu gara-gara kuda chating sama makhluk yang dinamakan ‘pria’?

Mimpi Pembangkit

Mimpi Pembangkit
@pujiepratiwi

    Dear Diary,
Terkadang mimpi itu selalu indah. Harapan juga terkadang begitu menggoda. Menggangguku ketika aku ingin fokus menjalani hidupku saat ini. Iya, terkadang terlintas harapan  ingin menjadi seperti para orang sukses, tapi tidak mau berusaha. Mau jadi pengusaha, tapi tidak mau bekerja. Mau dapat cinta sejati, tak kerjanya membagi hati. Mau jadi pimpinan yang tinggi, tapi sekolah tidak mau serius mencari budi.
Diary-Diary-Diary, aku hanya bisa menceritakan semua ini padamu. Selain Tuhan sebagai tempat aku mengadu. Jujur. Aku masih bingung dengan status hidupku. Ya, aku seorang mahasiswi. Tapi semua orang tahu, tidak ada yang namanya MAHA-siswi/MAHA-siswa yang kerjaanya makan, nongkrong, tidur, jalan-jalan, atau cuman bisa nelpon orang tua dan ngeluh, ‘Mah, Pah, jatah bulan ini abis.’ Argh.
Iri. Sangat iri. Diary, aku senang sekali belajar. Tapi aku hanya senang belajar ketika aku bahagia. Sekarang ini, aku tidak bahagia. Jangankan bahagia, cara bahagia saja aku bingung. Aku tidak tahu. Ingin sukses, tapi aku malas berusaha. Aku ingin tahu, tapi aku malas untuk membaca. Aduuuh. Berbeda dengan mimpiku tadi malam. Begini ceritanya.
Aku berjalan di sebuah hutan yang sangat gelap. Aku takut. Aku tersesat. Aku sendirian. Aku cuman bisa menangis dan berlari. Sampai suatu ketika aku ingat kalo aku belum berdoa. Sepanjang aku berlari di hutan itu, aku hanya menangis dan terus menangis. Berteriak sekencang-kencangnya meskipun aku tahu tidak ada orang lain di hutan itu kecuali aku. Sampai aku jatuh dan sadar, kesalahanku itu sepele sebenarnya. Aku hanya tidak berdoa.
Kemudian dengan penuh keputus asaan. Aku menghapus air mataku, aku menatap langit yang sangat gelap di mimpi itu. Aku mengangkat kedua tanganku kemudian aku berdoa, “Ya Allah, betapa sombongnya aku. Betapa aku tidak sedikit pun mengingat nama-Mu. Aku berdosa, Ya Allah. Ampuni aku. Hentikan penderitaan ini. Aku ingin kembali berada di jalan-Mu, ingin kembali ke dalam kehidupanku, karena aku menyesal dan aku ingin memperbaikinya.”
Dan Tuhan memang selalu dekat. Kemudian seseorang menyentuh pundakku dengan cahayanya. Dia membangunkanku.
Diary, itu mimpi yang sangat indah. Itu mimpi yang sangat membuatku sadar. Mimpi yang Tuhan kirim agar aku mengerti jalan hidupku. Saat ini kebingungan yang terkadang begitu menghimpitku. Kebingungan tentang siapa diriku, akan jadi apa aku, perlahan hilang. Aku sadar. Orang tuaku telah memberikanku jalan agar aku bisa menjadi manusia seutuhnya. Segala yang telah mereka berikan padaku seharusnya selalu aku manfaatkan sebaik-baiknya. Tidaklah seperti hari-hari kemarinku yang buruk, yang penuh dengan kebingungan akan status hidupku.
Dan hari ini, kemudian hari-hari yang akan datang. Akan ada hari dimana aku bisa menjadi diriku. Aku bisa mengembangkan bakatku. Aku bisa menggali potensi. Aku bisa mewujudkan semua impian-impianku. Aku ingin selalu bisa membahagiakan kedua orang tuaku, kakakku, keluarga besarku, dan semua teman juga guruku.
Diary, hidup itu adalah pilihan. Dan ini adalah pilihanku. Kebingunganku waktu lalu adalah jalan Tuhan untuk membuatku belajar dan mengerti bahwa ada saat dimana aku terjatuh, dan kemudian bangkit menjadi seseorang yang tangguh.

(Pernah mengikuti lomba #MyDream dari @divapress01) 🙂

Sadarkah?

Sadarkah kamu? Saat ini aku sedang benar-benar mengharapkanmu. Sedang benar-benar merasakan getar cinta hanya padamu. Dan terasa tak ada satu detikpun ingin aku lewatkan tanpa dirimu. Tapi ketika jalan tak selalu mulus. Ketika rindu tak selalu tersampaikan. Aku sadar jelas posisi hidup kita. Sadar jelas jarak tentang raga kita. Bukan hanya aku yang mungkin terkadang tak kuasa menahannya. Kamu juga.

Mungkinkah kita mampu? Tapi demi segala yang aku cinta, aku merasakan ini padamu. Tak ingin merasakan kehilangan lagi seperti waktu lalu. Tak ingin ulangi kesalah lagi seperti yang pernah terjadi. Aku ingin kita baik. Kita menjadi impinan yang akan menjadi sempurna.

Sadarkah kamu? Ketika banyak sekali waktu yang aku habiskan hanya untuk menunggumu. Ketika banyak tangisan yang aku teteskan hanya karena berdoa bersimpuh demi kebahagiaanmu. Ketika aku tak sempat selalu menghapus gundahmu. Ketika kamu hanya bisa marah dan aku hampir mati tersakiti. Aku puas dengan semua itu. Aku puas. Aku hanya sedang memohon dengan kesadaranku. Aku ingin kamu tahu. Aku ingin kamu buka matamu. Aku di sini. Aku selalu mencoba memberikan segalanya untukmu. Dan aku mohon. Hargai cintaku.

Ragu

Sesuatu memaksaku menulis tentang kepergianmu esok. Aku pikir aku tak mampu kehilanganmu lagi. Setelah dua bulan lalu aku menahan sakit karena rindu yang teramat akibat jauh dari sosok dirimu. Kini aku tegar, aku mampu, aku kuat, aku berani melewatkannya untuk membuktikan bahwa aku punya segalanya untukmu. Aku ragu tentang itu.

Enam bulan ini aku puas menahan rasa. Menahan penat yang sesungguhnya sudah aku rasakan ketika keputusanku melepasmu waktu lalu. Gempar mungkin seluruh organku. Menjalani enam bulan tanpa sosok seberarti kamu. Sosok yang banyak memaksa, mengekang, atau sekedar mengingatkan. Ya, enam bulan tepatnya beberapa hari lagi.

Sesuatu memaksaku menulis tentang kepergianmu esok. Aku tatap hari dan mimpiku yang kini akan kembali aku rajut sendiri dalam angan. Pernah terpikirkan bahwa janjimu, sekedar ucapmu, senyum itu, atau tatapan itu menggembungkan harapan dalam ingatku. Dan aku tatap lagi hari dan mimpiku kini yang tinggal separuh hancur karena terpisah jarak, dan akan bertambahkan jarak yang jauh setelah kamu memutuskan kembali melangkah. Aku ragu tentang itu.

Sesuatu memaksaku menulis tentang kepergianmu esok. Aku teringat suara itu yang sampai saat ini menghiasi lantunan lembut suaramu memanggilku, tertawa denganku, atau bahkan mengejekku. Aku ragu tentang itu.

Sesuatu memaksaku menulis tentang kepergianmu esok. Ingin kusentuh apa yang selalu aku sentuh ketika duduk terdiam bersamamu. Sekedar melirikmu dari samping. Menggelitikimu dengan manja. Atau memukulimu agar aku selalu dekat. Aku ragu tentang itu.

Aku ragu tentang semuanya. Hangat yang biasa aku dapat. Lembut yang biasa aku sentuh. Merdu yang biasa aku dengar. Indah yang biasa aku lihat. Nyaman yang biasa aku dekap. Esok akan pergi lagi. Menjauhiku dan entah kapan bisa kembali.

Aku ragu tentang semuanya. Takut ada enam bulan lagi aku menahan segalanya. Takut ada enam bulan lagi aku menantikan dirinya. Takut ada enam bulan lagi aku berusaha bertahan mempertahankan rasa kepadanya. Aku ragu kepadaku.

02-08-2013

Senja di Garut Selatan

Sesuatu yang biasa terjadi mungkin saja sangat berarti ketika jarang sekali kita rasakan adanya, kita amati perubahannya, kita saksikan indahnya. Sama halnya senja kali ini. Kita saksikan, kita rasakan, kita amati, dan berakhir dengan penuh kesuksesan yang membuat kesan mendalam. Senja di Garut Selatan.

md;dMasih cerah ternyata.

akd

Ini deket jembatan. Jembatan apa ya. Hehe lupa lagi. Yang jelas masih agak siang nih. Jam 15.00 WIB.

kkaWah keliatannya udah agak sore nih. Cahaya matahari udah ngasih tanda lewat awan. Hehe.

jaoaWah, dari atas jembatan keliatan jelas ya awannya agak hitam. Tanda sore semakin dekat. Sip sekarang on the way ke Pantai Sayangheulang.

,aWow, pantai yang indah. Masih agak cerah. Masih ada yang beraktivitas nih. Kita ke jembatan ya. Liat penghubung Pantai Sayangheulang dengan Pantai Santolo.

kaWah wah, itu jembatannya. Ternyata, sekarang jembatan itu sudah tidak difungsikan. Entah sejak kapan dan apa alasannya. Hehe.Kita mendekat ke air ya.

,s;Masih bersih ya. Kita bisa melihat jelas terumbu karang yang ada di Pesisir pantai Sayangheulang ini.

jsoDi sepanjang pantai, ada banyak pondok-pondok untuk istirahat atau tempat-tempat teduh terbuat dari tanaman di sepanjang pantai.

Oke, sekarang kita bermain air sambil melihat warna langit yang memerah.

say2

kapPuas bermain air, kita nikmati warna senja yang semakin memerah. Tanda senja telah hadir.

kpa

l[Orang-orang sudah mulai beranjak dari pekerjaannya. Kembali untuk beristirahat.

pa

;a

kpsWarna senja memantul di atas hamparan air depan mata. Indah.

8s

jsla

hia

ms

wDan kini, lihatlah sesuatu yangg sangat indah. Membuat kita terpana, jika itu yang pertama.

ja;aMatahari mulai terbenam.

Dan ditemani langit yang memancarkan warnanya yang indah, kita bisa pulang dengan sebuah ketenangan.

jjsSenja di Garut Selatan. Pameungpeuk.