Terakhir

Ini kata-kataku yang terakhir jika kamu mau memberi celah.

Sebelum aku benar-benar mati,
Sebelum aku benar-benar menghembuskan nafasku yang terakhir,
Izinkan aku menghentikan air mata dalam hatiku,
Mengehntikan segala kesalahan yang aku perbuat secara sengaja ataupun tidak.

MAAF
Izinkan aku mendapatkan maaf agar aku bisa tenang menghadapi segala kehidupan ini,
Izinkan aku merasakan kebahagiaan dunia dengan baik untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat yang mungkin sudah diambang mata.

Aku pernah salah dan aku pernah menyakiti,
Tapi aku selalu berdoa agar semua takkan pernah berlanjut menjadi semakin parah.

Aku pernah membuatmu menangis atau kecewa,
Tapi izinkan aku melepaskan kepenatan ini.

Jika seandainya kamu ingin marah dan benar-benar marah. Marahlah. Tapi hanya padaku.
Jika seandainya kamu tidak mau memaafkan. Silahkan. Tapi maafkanlah yang lain.

Cukup aku. Cukup ini dosaku. Bukan orang lain. Bukan juga semua orang.

Berhati Dua

Kamu penipu
Mengumbar rasa yang tak mungkin terjadi
Kamu penipu
Mengumbar janji yang tak bisa kau beri

Aku katakan cinta
Tapi kau tak pernah bersua
Aku ucapkan rindu
Tapi kau hanya membisu

Penipu
Tepat dengan bermuka dua
sama hancurnya dengan seorang pencaci
Penipu
Sama halnya dengan menjual kata
katakan cinta yang tak pernah terbukti

Sayang, kau katakan padaku
Tak lantas kau juga katakan padanya
Cinta, kau sanjung padaku
Tak lantas pula kau umbar padanya

Bermukakah dua?
Atau memang hatimu yang selalu mendua?
Berhatikah dua?
Atau memang kau hanya bermain rasa?

Cinta Kembali

Cinta kembali masuk dalam hatiku
Untuk kesekian kali memberi kesan yang dalam
Cinta kembali juga masuk dalam egoku
Untuk kesekian kali cinta menghancurkanku

Henti langkah takkan memberi hikmah
entah ini hari terakhir menuju kematianku
rasa yang kujaga hingga detik ini
akan habis dan melebur bersamanya
waktu menghancurkan cinta yang kini kembali
akan habis dan mencair bersama gundah
tidak akan kembali memberi amarah
ini sudah yang paling parah

KOlaborasi dengan Cucu Herawati

Mentari

Bulan yang terus bersinar
Seolah dialah yang paling terang
Mentari terdiam dan terus mengawasi
Lalu menghilang tanpa peringatan

Terlintas ingin menjadi purnama
Tak menutup indra untuk mentari
Suatu saat mungkin bisa terjadi
Berusaha untuk menjadi sang matahari

Bulan yang terus bersinar
Berusaha dan terus berdoa
Memang semua terlalu sukar
Tapi tetap belajar dan juga meminta

Membuat bulan yang baru
Yang bersinar begitu terang
Dan kini ia berpikir cerdas
Belum saatnya menjadi mentari
Tapi dia berbisik dalam hati
Akulah calon sang mentari

 

Kolaborasi Retno Puji Pratiwi dan Alhar Puja Pratama
@pujiepratiwi dan @Alharpratama