Kenangan Indah Tidak Bernama

Bolehkah aku sebut kau sebagai kenangan? Atau kusebut kau sebagai bagian yang indah tapi tak bernama. Kau tahu kenapa kusebut demikian? Jika kamu mau, lanjutkan baca tulisan tidak penting ini. Jika tidak, silahkan close dan tidak lagi kamu buka web ini.

Kusebut kamu indah, karena tidak ada penyesalan setelah mengenalmu. Bukan berbohong, memang pernah sempat kesal dengan garis takdir yang kadang menyulitkan. Tapi hidup kita adalah cerita yang kita buat, hasil dari pilihan kita.

Kusebut kamu tidak bernama, karena kamu tidak bisa kusebut milikku. Kamu tidak bernama, karena aku tidak memberimu sebutan tertentu. Tidak kupanggil ‘sayang’, tidak pula kupanggil ‘rindu’. Dua nama itu menyakitkan, ketika tidak bisa kupanggil lagi.

Atau, akan kusebut kamu sebagai kenangan, karena segala yang berarti akan selalu teringat. Entah sakit, atau senang.

Baiklah, kusebut kau ‘kenangan indah tidak bernama’, selamat datang, selamat menikmati gangguan di kepalamu, yaitu ingat aku.

Iklan

Menulislah

Kadang teman tak selalu menjadi seseorang yang sangat sejati. Terlihat manis, namun ternyata semua tak ada arti. Terkadang lembut, namun ternyata tak ada hati nurani

Maaf, bukan karena saya tidak suka punya teman. Saya punya begitu banyak teman dimana saja. Dunia nyata, atau bahkan dunia maya sekalipun. Tapi tahukah Anda? Terkadang kita harus selalu berpikir ke depan. Tidak hanya memikirkan bahwa kita hanya ingin mengungkapkan isi hati kita, hanya ingin segera berbagi kisah kita, apapun itu, entah cerita duka atau suka sekalipun.

Lihatlah dunia kita yang begitu berwajahkan keindahan, tapi ternyata itu hanya kebohongan. Berkatakan kelembutan, tapi itu hanya rayuan. Kini kita dihadapkan dalam kehidupan. Ketika segala hal hanya bisa kita katakan tanpa menjadi sebuah hasil yang menjadikan, kini ada hal lain yang bisa kita coba ubah menjadi semakin baik. Menulis.

Takut

Bahkan aku lemas meskipun hanya ingat wajahmu. Takut kenangan itu membuatku beku dan terpaku hanya mengingat sakit itu.

Aku takut.Meradangnya hati karena rindu. Aku juga takut. Takut tak akan lagi ada balasan rasa yang harusnya juga ia rasa untukku. Aku hanya takut.

Adalah

Kamu adalah objek yang dapat kutulis dalam nafasku, dapat pula kugambar dalam setiap langkah hari-hariku, juga bisa berupa sinar dalam redupnya bulan di malamku.

Kamu adalah gambaran yang tidak bisa aku lukiskan, kata yang tidak bisa aku ucapkan, hangat yang tidak bisa aku rasakan, atau lembut yang tidak bisa aku sandarkan.

Kamu adalah cita dari semua impian, tujuan dari setiap harapan, visi dari seluruh pengabdian.

 

Kamu

Kamu tidak pernah lebih dari sebaris kalimat, tidak pernah lebih dari ini. Kamu tidak pernah lebih dari semanis bicara, tidak pernah lebih dari itu.

Seperti tetesan embun yang jatuh di setiap paginya. Kamu setia dengan perlakuanmu. Seperti hembusan angin di setiap malamnya. Kamu dingin dengan sikapmu.

Kamu tidak lebih dari yang mengukir luka di masa laluku, tidak lebih dari menyakitiku. Kamu tidak lebih dari yang pernah mengeras di hatiku, tidak lebih kuat dan mencair di ingatanku.

Bagai pelangi yang tidak bisa hadir selamanya. Bagai awan yang tidak bisa menetap setiap waktunya. Bagai cerita yang tidak selalu manis akhirnya. Bagai rindu yang selalu menanyakan keberadaannya.

Puas?

Pernahkah kamu tidak puas akan sesuatu? Semacam sadar bahwa ada sebagian hal, atau hanya se’cuil’ kata yang belum sempat kamu utarakan.

Pernahkah kamu tidak puas akan sesuatu? Semacam kesal karena tidak pernah, bahkan tidak mampu menanyakan sebuah pertanyaan klasik.

Pernahkah kamu tidak puas akan sesuatu? Semacam ada hal yang tidak bisa kamu capai, bahkan untuk mengingatnya pun kamu tak bisa.

Pernahkah kamu tidak puas akan sesuatu? Semacam tidak ikhlas dengan garis cerita hidup, bahkan takdir yang sudah digariskan akan dirimu.

Pernahkan kamu tidak puas akan sesuatu? Semacam menyesal telah banyak melakukan kesalahan, bahkan menyia-nyiakan banyak hal.

Pernahkan kamu tidak puas akan sesuatu? Semacam benci akan dirimu sendiri, bahkan kamu tidak tahu apa yang bisa merubah keadaan.

Pernahkah? Atau kamu selalu puas akan segala hal? Kamu selalu yakin dengan semua keadaan? Kamu selalu percaya dengan apa yang telah kamu lakukan?