Bisik Seorang Penumpang

Mungkin karena gak pernah, alias jarang banget, naik bus dan sejenisnya, badan kerasanya gak enak.

You know lah. Kemana-mana pengennya naik kereta. Secara, meskipun ekonomi, kereta punya AC. Sepenuh apapun di kereta, selalu ada celah dimana dapet kena dinginnya AC.

Memang, gak selalu bus yang ditumpangi itu tanpa AC. Tapi terkadang, sedingin apapun AC, kalau jalanan macet, dedek gak tahan.

Memang, di bus tanpa AC itu ada jendela yang bisa dengan bebas dibuka. Tapi kita semua pasti tau, tidak semua orang itu sadar bahwa merokok itu tidak boleh di kendaraan umum. Selebar apapun itu jendela di buka, asep rokok pasti kena.

Kelebihan dari naik kereta, yaitu punya jalan sendiri dengan jadwal tersendiri. Ya, kadang sebel juga kalo kereta ekonomi harus ridho kalau yang diprioritaskan itu kereta jarak jauh, bukan kereta lokal. Tapi, dengan kemurahan, dan AC (tetep kembali ke si AC) pasti banyak pengguna yang rela menunggu meski di jadwal kereta selanjutnya.

Ini pendapatku, yang pernah kapok naik kendaraan roda empat atau lebih atau kurang, pokoknya yang jalannya di jalan raya. Pernah ngalamin namanya gak bisa gerak di tengah banjir. Oh God. Rasanya pengen balik lagi, bodo amat harus nerjang banjir. Tapi ya sudahlah, ini curhatan manusia yang duduk di belakang jadi penumpang, buka supirnya.

Tapi namanya juga hidup. Selalu ada hal baik dan buruknya. Seburuk apapun kemacetan, pasti semua punya penyebabnya. Punya alasannya kenapa manusia rela bermacet-macet ria, berhujankan keringat hanya untuk menuju suatu tempat. Entah itu naik kendaraan beroda, atau kendaraan bersayap, maupun yang jalannya di rel. Semuanya ingin dapat nafkah kan? Semuanya bersusah payah demi keluarganya. Semuanya berjuang untuk datang ke keluarganya. Meskipun tanpa AC, banyak yang membakar uang, banyak yang berjualan teriak-teriak, banyak yang mabuk perjalanan, banyak yang kesal akibat kemacetan, semuanya untuk mencapai tujuan mereka. Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka harapkan.

Penasaran?

Kalau mau. Ask aja aku. Minta id line-ku. Atau minta pin bbmku. Boleh sekalian nomor whatsapp-ku. Biar jelas. Biar tau gimana cerita awal sampai cerita akhirnya.

Kutunggu.

Siapa yang tahu?

Demi apapun di dunia. Tidak ada satu makhlukpun yang akan tahu kisah setiap orang, setiap jejak manis atau pahit hidupnya, atau setiap doa juga harapannya.

Demi apapun itu di dunia. Tidak akan ada makhluk apapun yang bisa menebak hati setiap orang, setiap baik buruk ucapannya, atau setiap inci perbuatannya.

Kamu? Atau dia? Atau aku? Ataupun manusia terhebat di dunia. Tidak akan pernah tahu tentang kebenaran. Kamu, dia, aku, atau siapapun punya pandangan tentang kebenarannya sendiri. Tentang arti hidupnya sendiri.

Siapa yang tahu? Bahkan jelas aku tidak pernah menjadi seseorang. Tidak pernah mencoba menjadi yang paling tersayang. Yang terbaik itu tidak perlu diundang, atau dikekang. Mereka sendiri yang akan datang.

Siapa Berani

Ketika kecewa menghampiri. Ketika ketulusan kemudian datang mendampingi. Siapa berani. Siapa sudi untuk membiarkannya pergi. Atau membuatnya mati. 

Ketika yang kau butuhkan adalah lembaran baru lagi. Dan ia tak pernah berhenti memberi. Siapa berani. Siapa yang tega melepaskan sebuah kebaikan yang tak henti. Atau membuangnya agar tak kembali.

Ketika yang kau butuhkan adalah lupa akan sakit di hati. Dan sedikit kau buka untuk melupakan pedih yang menghantui. Siapa berani. Siapa yang tahu bahwa senyum tak selamanya berarti. Atau perhatian itu selamanya menyayangi. 

Buktinya, ketika sudah kau lupakan segala cerita tentang lelah menanti. Ternyata ia tak jauh dari bermain api. Sedikit datang, dan lama pergi. Lama pergi, dan memang tak akan bisa kembali. Siapa berani. Ia punya monyet baru berkulitkan duri. Ia punya monyet baru beralaskan belati. Ia punya monyet baru yang selalu mencemburui. Ia punya monyet baru yang selalu mengikuti. Ia punya monyet baru yang takut lelakinya didekati. 

Kamu Membuatku

Kamu membuatku memikirkan sesuatu. 

Kamu membuatku membayangkan bagaimana masa depan.

Kamu membuatku merangkai khayalan tentang kehidupan esok. 

Kamu membuatku lupa pernah menunggumu.

Kamu membuatku lupa pernah menangis mengharapkanmu.

Kamu membuatku lupa pernah terluka melihat kebahagiaanmu.

Kamu membuatku lupa pernah putus asa menyaksikan seseorang menyebutmu sayang.

Hari ini dan seterusnya. 

Kamu membuatku haus akan perhatian.

Kamu membuatku takut kehilangan.

Kamu membuatku tak akan pernah bisa melepaskan.

Kamu membuatku selalu merindukan. 

Kamu membuatku cemburu akan senyuman.

Hari ini dan seterusnya.

Kamu membuatku menjadikanmu segalanya.

Kamu Tahu Aku Menunggu

Aku alay ya? Tiap hari so manja. Alay ya? Tapi kamu gak ngasih respon. Alay banget ya? Sampe udah ngarepin sesuatu tp kamu kayanya udah males.

Lah. Kalo aku nunggu terus, tp kamu gak mau. Ya kali aku gak ngerti. Aku banyak ini itu. Terus knp? Kamu bikin aku sabar, teuing sabar gara2 apa.

Bebas lah. Pasti gitu. Pasti aku gak bisa maksa. Pasti kamu nanya, aku mau apa, aku siapa, aku yg knp. Bebas. Ya bebas banget sih kamu dtg ngasih segalanya terus tiba2 rubah.

Gpp. Aku pengen kamu raih cita2 kamu. Aku gak lg maksa kamu pulang. Minta ini, minta itu. Tp knp jd aku yg mesti gpp lg. Masa harus so ngerti kalo kamu ngasih aku jarak.

Teuing. Mereun terlalu ngarep. Teuing. Kamu bosen terus aku ganggu, so perhatian pdhl ngeselin. Lah. Gue marah. Gue marah!! Gue benci denger lo cerita org lain. Gue gak suka. Gue pengen lo cuman bisa deket sm gue, gak usah yg lain.

Gue punya hak apa? Gak ada kan? Mesti sabar kan meskipun lo dateng terus pergi. Mesti sabar kan? Sabar ditengah nunggu lo ngasih gue kejelasan. Gue cuman takut. Takut lo udah gak bisa bilang ‘sayang’ lagi. Gak bilang ‘baby’, atau apapun yang nunjukin kalo lo sayang ke gue.

Gue kangen. Tiap hari biasanya kita ketemu. Sekarang? Gak pernah. Gue dateng pun, lo sibuk.