Bulan

Mengapa bulan selalu terlihat indah dari kejauhan. Begitu mengagumkan ketika bersinar di gelapnya malam sendirian.

Mengapa bulan selalu banyak yang menginginkan. Begitu dipuja dan banyak yang mengharapkan.

Mengapa bulan selalu sulit ditemui. Begitu penuh rintangan yang harus dihadapi.

Mengapa bulan selalu tinggi dan tidak bisa aku dapati. Begitu jauh hingga mungkin harus diakhiri.

Iklan

Jujur-Rindu

Jika harus jujur, aku rindu memanggilmu milikku. Membagikan memori dan senyum di media sosialku. Tanpa ragu mengganggumu dengan telepon dan pesan dariku. Atau bahkan tidak henti mengatakan aku merindukamu.

Selesai

Aku mengatakan dengan lantang. Bahwa aku sudah selesai. Mengakhiri sebuah cerita yang tak tahu kapan memiliki awal.

Aku berteriak penuh keyakinan. Bahwa aku sudah selesai. Berharap tidak ada lagi yang tersisa tentang kenangan atau sebuah perasaan.

Aku tersenyum dengan sedikit rintihan. Bahwa aku sudah selesai. Inginkan kamu berhenti menarik ulur harapan.

Aku sungguh merasa semua melelahkan. Bahwa aku sudah selesai. Meski kadang sedikit merindukan.

Aku vs Dia (Part 3)

Ternyata aku belum berdamai dengan keadaan
Terkadang kesal dan menahan perasaan
Tak kusebut perasaan apa itu
Yang kutahu menggumpal dalam kepala
Panas menggerogoti jiwa raga
Marah yang tidak bisa lewat kata
Mungkin air penuh dalam mata
Tidak apa-apa
Semua menjadi cerita
Bahwa kita pernah bersama
Gak apa-apa aku yang setia
Meski kamu pernah lupa

Aku vs Dia (Part 2)

Hidup tak melulu tentang nyapa dan bertemu.
Malah sering menahan rindu.
Manusia tidak melulu baik dan mudah berjanji .
Malah terkadang naik dan lupa teman sendiri.
Aku sulit merangkai kata, hanya padamu aku mudah bermain kata.
Aku sulit analisa matematika, hanya pada mu aku mengerti cinta.
Aku sih yang bilang cinta, tapi dia yang di terima

Niat hati ingin selamanya sejati
Apalah daya takdir tidak merestui
Cita-cita ingin membeli rumah agar mandiri
Malah dia yang kau beri mimpi
Boleh pergi tapi untuk kembali
Tapi ternyata janji menutupi langkah kaki
Cape sendiri
Ketemu boleh ketemu
Tapi kamu memberi harapan palsu
Aduh bagai aku yang kehausan
Dia yang kau beri minum

Ucap mu tak selamanya harum.
Cerita mu selalu bikin kagum.
Hidup ku butuh kamu tak menuntun.
Tangan mu berharap bisa ku tuntun.
Cita-cita ingin serumah dan sekamar,
Dia lebih dulu bertamu dan melamar.
Cita-cita punya anak sebelas dan bikin kesebelasan.
Dia lebih dulu memulai dan memesan.
Niat hati sehidup semati, tapi dia yang mengucap janji

Aku vs Dia

Seminggu dua minggu gak masalah
Sebulan dua bulan sudah dimaafkan
Enam bulan sampai setahun, capek hati
Jaga anak orang itu susah
Beda anak ayam dan anak orang
Tapi Tuhan Maha Adil
Gak apa-apa, aku yang jagain
Tapi dia yang dimenangin

Sesekali aku nge-chat
Sesekali aku kepo
Sesekali aku posting
Buat apa? Buat dapet perhatiannya.
Tapi apa? Cuma nunggu.
Nunggu kamu sih enak. Yang ga enak itu nunggu kabar dari kamu.
Bangun tidur enaknya sarapan selamat pagi dari kamu.
Tapi….
Gue yang nungguin. Dia yang dapetin.

Aduh manusia siapa sih yang tahu
Kadang sebaik mama yang kasih uang
Kadang sejahat rindu yang selalu mengganggu
Manusia bisa berubah dalam satu waktu
Pergi berteman senyum membawa kata ‘sampai jumpa’
Pulang berteman ‘teman baru’ membawa kata ‘selamat tinggal’
Siapa yang tahu?
Aku sih yang kangenin
Dia yang nemenin

Sadar

Ya, beberapa tahun ini aku lupa arti tulisan di atas. Aku tidak sadar bahwa perpisahan di masa lalu itu adalah tanda, bahwa ia tidak sepenuhnya mencintai.

Sudahkah waktunya untukku sadar? Bahwa yang terbaik tidak akan pernah pergi. Hanya karena sebuah masalah, ego, keinginan, apalagi perempuan lain yang baru hadir bagai sehari.

Ayo, bangun. Kamu sudah memulai percakapan, mencari alasan, membangun harapan, menunggu kejelasan, padahal semua begitu terbuka di depan mata. Ia, tidak sesempurna biasan matamu.

Sudahkah waktunya untukku sadar? Mencintai itu begitu sulit, begitu penuh dengan goresan tinta bahagia atau malah air mata. Mencintai itu rumit, sebegitu berbelit penuh dengan teriakan sorak suka cita atau malah derita.