Siapa Berani

Ketika kecewa menghampiri. Ketika ketulusan kemudian datang mendampingi. Siapa berani. Siapa sudi untuk membiarkannya pergi. Atau membuatnya mati. 

Ketika yang kau butuhkan adalah lembaran baru lagi. Dan ia tak pernah berhenti memberi. Siapa berani. Siapa yang tega melepaskan sebuah kebaikan yang tak henti. Atau membuangnya agar tak kembali.

Ketika yang kau butuhkan adalah lupa akan sakit di hati. Dan sedikit kau buka untuk melupakan pedih yang menghantui. Siapa berani. Siapa yang tahu bahwa senyum tak selamanya berarti. Atau perhatian itu selamanya menyayangi. 

Buktinya, ketika sudah kau lupakan segala cerita tentang lelah menanti. Ternyata ia tak jauh dari bermain api. Sedikit datang, dan lama pergi. Lama pergi, dan memang tak akan bisa kembali. Siapa berani. Ia punya monyet baru berkulitkan duri. Ia punya monyet baru beralaskan belati. Ia punya monyet baru yang selalu mencemburui. Ia punya monyet baru yang selalu mengikuti. Ia punya monyet baru yang takut lelakinya didekati. 

Iklan

Kamu Membuatku

Kamu membuatku memikirkan sesuatu. 

Kamu membuatku membayangkan bagaimana masa depan.

Kamu membuatku merangkai khayalan tentang kehidupan esok. 

Kamu membuatku lupa pernah menunggumu.

Kamu membuatku lupa pernah menangis mengharapkanmu.

Kamu membuatku lupa pernah terluka melihat kebahagiaanmu.

Kamu membuatku lupa pernah putus asa menyaksikan seseorang menyebutmu sayang.

Hari ini dan seterusnya. 

Kamu membuatku haus akan perhatian.

Kamu membuatku takut kehilangan.

Kamu membuatku tak akan pernah bisa melepaskan.

Kamu membuatku selalu merindukan. 

Kamu membuatku cemburu akan senyuman.

Hari ini dan seterusnya.

Kamu membuatku menjadikanmu segalanya.

Kamu Tahu Aku Menunggu

Aku alay ya? Tiap hari so manja. Alay ya? Tapi kamu gak ngasih respon. Alay banget ya? Sampe udah ngarepin sesuatu tp kamu kayanya udah males.

Lah. Kalo aku nunggu terus, tp kamu gak mau. Ya kali aku gak ngerti. Aku banyak ini itu. Terus knp? Kamu bikin aku sabar, teuing sabar gara2 apa.

Bebas lah. Pasti gitu. Pasti aku gak bisa maksa. Pasti kamu nanya, aku mau apa, aku siapa, aku yg knp. Bebas. Ya bebas banget sih kamu dtg ngasih segalanya terus tiba2 rubah.

Gpp. Aku pengen kamu raih cita2 kamu. Aku gak lg maksa kamu pulang. Minta ini, minta itu. Tp knp jd aku yg mesti gpp lg. Masa harus so ngerti kalo kamu ngasih aku jarak.

Teuing. Mereun terlalu ngarep. Teuing. Kamu bosen terus aku ganggu, so perhatian pdhl ngeselin. Lah. Gue marah. Gue marah!! Gue benci denger lo cerita org lain. Gue gak suka. Gue pengen lo cuman bisa deket sm gue, gak usah yg lain.

Gue punya hak apa? Gak ada kan? Mesti sabar kan meskipun lo dateng terus pergi. Mesti sabar kan? Sabar ditengah nunggu lo ngasih gue kejelasan. Gue cuman takut. Takut lo udah gak bisa bilang ‘sayang’ lagi. Gak bilang ‘baby’, atau apapun yang nunjukin kalo lo sayang ke gue.

Gue kangen. Tiap hari biasanya kita ketemu. Sekarang? Gak pernah. Gue dateng pun, lo sibuk.

Akankah?

Aku tidak pernah punya apapun. Selain rindu. Juga kebohongan. Bohong tentang menahan semua rasa cinta, benci akan kepergianmu, juga rindu yang tak pernah aku ucapkan.

Akankah dua kota ini mendekat, sedekat apa yang selalu kita rasa dekat. Akankah dua kota itu menjadi satu, satu seperti hati kita yang tak pernah terpisah. Akankah rindu ini meluap karena penuh, seperti gelombang dari menahan perasaan. Dan akankah bumi bisa mengerti, seperti teriakan petir dan raungan air mata.

Aku Ingin Berpisah

Aku ingin berpisah dengannya, dengan apa yang aku rasakan padanya, dengan apa yang selalu aku mimpikan tentangnya.
Aku ingin berpisah dengannya, sungguh ingin berpisah dengannya, dengan duka yang membuatku diantara hidup dan mati, diantara sakit dan sekarat.
Aku ingin berpisah dengannya, karena besar rasaku untuknya, karena besar rinduku menyentuhnya, karena aku tahu dia juga selalu ingin bersamaku, tapi karena ego kita yang membuat kita tak bisa menyatu.
Aku ingin berpisah dengannya, Tuhan. Pisahkan aku, pisahkan keegoanku, pisahkan dukaku, aku ingin tetap memujanya, pisahkan aku, aku terlalu menginginkannya.

Takut

Bismillah, Ya Allah.
Maafkan atas segala dosa yang menggunung yang telah aku perbuat selama ini, baik terasa ataupun tidak. Maafkan aku atas kelupaanku akan karunia-Mu. Aku merindukan-Mu.
Aku seakan jauh dengan-Mu, aku rindu. Ingin sekali kuungkapkan keluhku tentang rasa takut yang semakin menjadi, takut kehilangan dan sangat takut ditinggalkan.
Baiklah. Aku takut Engkau tak lagi memaafkanku. Lalu aku takut keluargaku pergi menjauhiku. Kemudian aku sangat takut sang pria yang tak pernah absen dalam doaku telah bosan tinggal bersamaku dan akhirnya memilih menghilang.
Oh Tuhan, oh Ya Allah, oh pemilik segala hati. Engkau tahu apa yang sangat aku inginkan, apa yang sangat aku dambakan dalam hidupku. Ijinkanlah doa ini menjadi hal terbaik dalam hidupku; tinggal bersamanya. Jadikanlah ia yang paling sabar akan kekuranganku, yang paling setia akan ucapannya, yang paling tampan akan sikapnya.
Tak perlu orang lain, Engkau tahu sedalam apa doa ini. Engkau tahu sebesar apa aku menjaga rasa ini. Dia menjadi hal paling terpenting setelah kedua orang tua dan saudara kandungku. Dia menjadi hal paling indah setelah alam semesta ciptaan-Mu ini.
Aku seperti ini karena-Mu, karena takdir-Mu. Maka jadikanlah ini semakin bermakna karena ini adalah jalan-Mu.
Amin.

Terima Kasih

Bismillah.
Untuk kekasihku, lelakiku, pujaanku, doaku, harapku, cintau, dengan segala keistimewaannya.
Alhamdulillah hari ini, umurku, sisa hidupku bersamamu kini semakin berkurang. Tapi, Alhamdulillah rasa ini terus berkembang, membessar, menjadikanku takut bahkan semakin takut kehilanganmu. Demi Tuhan!

Doaku, pada-Mu, Ya Allah.
Tentang semua rejeki sehat dan segala yang terbaik untuk keluargaku, sahabatku, seluruh teman yang menemani hidupku, serta kamu. Semoga jalan terbaik selalu menyertai mereka dan kamu.
Tentang doa semoga suatu saat kita bisa berkumpul kembali di tempat paling indah dalam hidup kita, yaitu Surga.
Tentang rasa cinta dan sayang yang sampai saat ini terus menggerogoti dinding dalam seluruh organ dalam diriku yang aku tengah rasakan padamu.

Aku pasti akan kehilanganmu suatu hari nanti, aku tau. Entah mati atau karena Tuhan tak ijinkan kita tinggal bersama sampai tua nanti. Tapi yakinlah, aku tak ingin kamu meninggalkanku, menjauh, atau sekedar lupa akanku.
Aku ingin kita tetap tinggal di satu ruangan yang sama yang memiliki rasa yang sama, yaitu cinta.

Sering aku katakan semua burukmu, itu artinya aku menyebutkan burukku. Kini kamu adalah bagian dalam diriku. Kamu sakit, maka akupun sakit. Ketika kamu mati, maka lumpuhlah aku.

Terima kasih, sayang. Di hari bahagia ini aku masih bisa memilikimu, aku masih bisa menyentuhmu, bisa menjadi semanja-manjanya. Aku berterima kasih telah kau korbankan banyak hal untukku. Waktu, tenaga dan segala yang kamu bisa. Terima kasih, atas doa juga atas percayamu tentang rasaku.
Aku hanya tau, kamu sangat menyayangiku, dan akupun begitu. I Love You.