Aku vs Dia

Seminggu dua minggu gak masalah
Sebulan dua bulan sudah dimaafkan
Enam bulan sampai setahun, capek hati
Jaga anak orang itu susah
Beda anak ayam dan anak orang
Tapi Tuhan Maha Adil
Gak apa-apa, aku yang jagain
Tapi dia yang dimenangin

Sesekali aku nge-chat
Sesekali aku kepo
Sesekali aku posting
Buat apa? Buat dapet perhatiannya.
Tapi apa? Cuma nunggu.
Nunggu kamu sih enak. Yang ga enak itu nunggu kabar dari kamu.
Bangun tidur enaknya sarapan selamat pagi dari kamu.
Tapi….
Gue yang nungguin. Dia yang dapetin.

Aduh manusia siapa sih yang tahu
Kadang sebaik mama yang kasih uang
Kadang sejahat rindu yang selalu mengganggu
Manusia bisa berubah dalam satu waktu
Pergi berteman senyum membawa kata ‘sampai jumpa’
Pulang berteman ‘teman baru’ membawa kata ‘selamat tinggal’
Siapa yang tahu?
Aku sih yang kangenin
Dia yang nemenin

Iklan

Sadar

Ya, beberapa tahun ini aku lupa arti tulisan di atas. Aku tidak sadar bahwa perpisahan di masa lalu itu adalah tanda, bahwa ia tidak sepenuhnya mencintai.

Sudahkah waktunya untukku sadar? Bahwa yang terbaik tidak akan pernah pergi. Hanya karena sebuah masalah, ego, keinginan, apalagi perempuan lain yang baru hadir bagai sehari.

Ayo, bangun. Kamu sudah memulai percakapan, mencari alasan, membangun harapan, menunggu kejelasan, padahal semua begitu terbuka di depan mata. Ia, tidak sesempurna biasan matamu.

Sudahkah waktunya untukku sadar? Mencintai itu begitu sulit, begitu penuh dengan goresan tinta bahagia atau malah air mata. Mencintai itu rumit, sebegitu berbelit penuh dengan teriakan sorak suka cita atau malah derita.

Melihat

Satu tahun sudah, saya melihat berbagai karakter dan cara belajar siswa di kelas yang saya masuki.

Dengan satu pertemuan, sekitar dua-tiga jam pelajaran, saya melihat puluhan karakter dari puluhan siswa.

Ayok, saya ceritakan beberapa karakter dari siswa yang saya temui.

  1. Siswa perfeksionis. Saya melihat mereka yang selalu ingin terlihat sempurna. Di depan teman, maupun guru. Mereka cenderung cukup lamban dalam tugas ataupun mencatat. Karena ingin hasil tugasnya sempurna, atau catatannya rapih. Terkadang mereka cenderung sering diejek temannya, karena sifatnya yang ingin semua begitu sempurna. Sering juga, mereka menjadi orang terakhir di kelas yang mengumpulkan tugas. Dan sangat gelisah ketika mereka melakukan kesalahan.
  2. Siswa Peminta Maaf. Mereka sangat suka meminta maaf, menjaga ucapan, dan cenderung membungkukkan badannya ketika berbicara. Mereka mengungkapkan perasaannya dengan tersenyum, tidak lupa meminta maaf. Sangat gelisah apabila melakukan kesalahan.
  3. Siswa cari perhatian. Mereka melakukan banyak hal agar dilihat orang lain. Tidak hanya teman, termasuk guru, wah wah sampai kepala sekolah ataupun kepala yayasan. Hehehehe. Ya, mereka bersikap manja, selalu ingin menonjolkan dirinya, seolah-olah tidak mengerti atau ingin selalu dibantu orang lain. Mereka senang ber-acting dan bersikap berlebihan apabila merasakan sesuatu, contohnya merasa bersalah atau sakit.
  4. Siswa cerdas. Wah, saya lebih senang menyebut mereka cerdas. Karena pintar saja tidak cukup. Siswa-siswa cerdas ini pandai menempatkan diri. Mereka meminta maaf apabila salah, bertanya apabila tidak paham, tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Mereka paham cara berkomunikasi dengan teman, ataupun guru. Tidak pernah menunjukkan, tapi semua pasti tahu kalau dia cerdas.
  5. Siswa hilang ingatan. Iya, bukan lupa nama dan tempat tinggal. Tapi mereka lupa siapa mereka sebenarnya, dan apa tugas mereka di sekolah. Mereka cenderung bangga menunjukkan bahwa mereka salah. Tidak takut akan aturan, hobi melanggar, pandai bersilat lidas, senang melupakan tugas, cemilannya alasan, dan matanya penuh dengan kepalsuan. Aduh, kalau yang ini sih saya sudah tidak anggap ada di kelas. Capek loh.
  6. Siswa cemburuan. Bukan hanya pacaran loh yang sering dicemburui, guru juga. Banyak siswa yang sangat cemburuan. Mereka tidak suka dibanding-bandingkan, atau menyebut orang lain, membanggakan orang lain. Mereka ingin semua mata hanya tertuju padanya. Seakan guru itu miliknya. Mereka akan sangat marah dan dengan lantang mengatakan kekecewaannya. Hahaha.

Baca lebih lanjut

Selalu Sempurna

Semua indah pada waktunya? Ataukah semua indah setelah memperjuangkannya?

Hari itu, aku terpana di sekian puluh detik. Melihat dia berjalan dengan senyuman bahagia. Tanda perjuangannya telah berakhir dengan indah.

Iya, sempurna. Meski dasinya yang sedikit miring, topinya yang tidak pas, rambutnya yang agak berantakan, atau sepatunya yang tidak mengkilap. Hari itu dia terlihat sempurna.

Di detik-detik terakhir dia berjalan melewati barisan junior, aku baru tersadar. Aku melewatkan momen menekan tombol video dari ponselku.


Apa perjuangan yang tepat untuk menarik perhatiannya? Apa kenyataan yang melekat tidak memudarkan semangat?

Hahhhh. Hari itu, sama seperti beberapa tahun yang lalu. Ketika malam, aku menemuinya. Di kali pertama dalam hidup, bertemu dengan sosok makhluk dunia maya yang berubah jadi nyata.

Dulu, pun dia terlihat sempurna. Meski terduduk di lantai, memainkan laptopnya, tersenyum seperti tidak pernah punya dosa, melihatku datang menyapa untuk pertama kalinya.

Haha. Aku berkata dalam hati, “Oh ini, kupikir jelek”.


Berapa waktu yang cukup untuk menjadikan seseorang terasa istimewa? Membuat dia terasa begitu luar biasa dan sangat berharga?

Waktu terasa begitu cepat. Bahkan aku lupa alasan selalu merinduinya. Aku lupa bagaimana bisa sebegitu memujanya.

Dulu, dia selalu sempura. Meski datang dengan celana pendeknya, membawa tugas untuk aku yang mengerjakannya, membawa makan agar aku menyuapinya. Tapi tetap selalu sempurna, meski sering pergi hanya untuk membela club kesukaannya.

Hahhhhh. Selalu ada cerita dimana malam aku selalu rindu. Siang aku selalu menunggu. Bahkan kembali pagi pun aku tidak mau.


Apakah seharusnya aku tidak pernah menyerah dan menerima keadaan? Apa aku harus menyesal dengan semua yang telah dia lakukan?

Dia selalu hangat meski malam, dia selalu sempurna meski kadang mengesalkan, dia selalu manis meski jarak kadang menjauhkan.

Tak Tersampaikan

Bertahun-tahun, dengan baik aku mengenal setiap jengkal sifat dan perilakumu
Melihat setiap centi kisah hidupmu
Dalam senang pun sedihmu
Dalam nafas, apalagi pandanganmu

Bertahun-tahun, hingga memujamu adalah pekerjaanku
Melihatmu tidur dan terbangun adalah mimpiku
Bahkan tak ada pundak ternyaman selain milikmu
Kamu, dengan burukmu
Juga kamu, dengan kecintaanmu

Bertahun-tahun, tapi masihkah ada yang tak bisa kau sampaikan
Ataukah mungkin aku yang tak biasa mengungkapkan
Inginkan terbuka adalah kunci
Berharap ungkapan menjadi inti

Bertahun-tahun, cinta menjadi begitu menggebu
Bagai hari menjadi sesak jika tanpamu
Atau semua membusuk tanpa hadirmu

Apakah ada kata yang lebih kasar, selain aku mencintaimu?

Memulai Kembali

Melanjutkan tulisan saya di 2 postingan sebelumnya, yaitu Berpindah dan Berpindah (2).

Kali ini saya ingin menceritakan betapa memulai sesuatu hal yang baru, dengan tempat dan orang berbeda itu sulit.

Saya tidak tahu sikap saya ini masuk kedalam kategori apa. Yang jelas saya amat sangat malas memperkenalkan diri, menjelaskan hidup saya, mengungkit sejarah atau apa saja yang saya lakukan.

Saya tidak tahu, ini sebuah kelainan, atau masalah psikologis biasa.

Saya tidak bisa disebut seorang introvert, karena saya senang berhubungan dengan orang, berbicara di tempat umum, menjelaskan dan berkomunikasi dengan siapapun. Saya pikir, saya masuk kedalam kategori ekstrovert.

Tapi, saya malas, sungguh saya seorang pemalas. Di waktu-waktu tertentu, katakanlah sebuah seminar atau hanya pemateri palsu, saya sanggup dengan mudah menyesuaikan diri saya. Anehnya, sangat sulit jika itu harus menjadi keseharian.

Sekarang saya tidak mau mencontohkan segalanya kepada pekerjaan saya saat ini.

Saya akan menceritakan betapa saya malas memulai kembali, ya, sebuah hubungan, bisa jadi, percintaan. Kisah cinta di hidup saya tidak semudah orang-orang bergonta-ganti pasangan, putus satu tumbuh seribu. Ya, saya tidak.

Menurut saya, tidak ada cinta pada pandangan pertama. Cinta itu tumbuh dari proses dimana seluruh indera kita merasakan kenyamanan ketika bersama seseorang. Itulah cinta menurut saya.

Maka, tidak ada namanya melupakan dengan cepat, mencintai dengan sekejap. Semuanya butuh proses.

Dari situlah, saya, manusia pemalas ini selalu malas memulai kembali sebuah hubungan. Saya cenderung akan mempertahankan, menjaga, dan memperbaiki jika sesuatu tengah rusak, salah, atau retak.

Kini, semua kembali pada Anda. Apakah Anda mau berpindah ke lain hati dan memulai kembali?

Berpindah (2)

Siapa yang suka perpisahan? Siapa yang senang meninggalkan orang-orang yang sudah membuatmu nyaman? Siapa yang bangga terus melalukan perpindahan?

Saya? Tidak.

Saya berpikir. Saya tidak akan mampu jika harus melakukan perpindahan di setiap waktu. Maksud saya, saya tidak bisa menetap di suatu tempat untuk waktu yang cukup lama secara berulang.

Contohnya, tahun 2013 saya tinggal di daerah Neglahilir. Saya memiliki teman dekat setelah lebih dari tiga bulan. Lalu 2015 saya pindah ke daerah Ledeng. Saya harus memulai mencari teman.

Contoh lainnya. Tahun 2017 saya bekerja di sebuah lembaga A, tapi tahun 2018 saya harus pindah ke lembaga B.

Kamu tahu bagaimana semua itu terjadi? Semua adalah perpindahan, semua adalah hal yang menurut saya menyusahkan. Mengapa susah? Karena saya risih dengan perkenalan, menyesuaikan diri dari awal, membagi cerita lagi dari awal. Saya merasa tidak mampu untuk itu.

Mungkin sebagian orang berpikir, “Halah, pindah mah pindah aja, gampang kok.” Jawabannya, Ya, pindah itu mudah, tapi menyesuaikannya yang susah.

Apa alasan saya merasakan semua itu? Jawabannya karena saya tidak mudah jatuh pada sesuatu, saya terlalu perasa akan sesuatu, saya terlalu larut akan segalanya, saya sulit apabia harus melepasnya.

Itu bukan kelebihan. Itu adalah kekurangan. Itu adalah hal yang paling menakutkan.

Saya lebih suka travelling sendirian, daripada pindah juga sendirian.

Pindah lagi? Saya pikir, tidak, terimakasih.