Hi

Untuk pelangi yang ‘mungkin’ hanya datang setelah hujan.
Selamat sore,
Saya tahu bahwa saya tidaklah pantas dengan segala yang pernah saya katakan padamu. Maaf, bukan tak sopan atau menganggap biasa, saya hanya sedang merasa bersalah pada seseorang yang saya anggap dekat, sampai-sampai saya memanggilnya ‘kamu’.
Saya juga sebenarnya sadar, tidak baik untuk seorang wanita harus selalu berkata dan berbicara pada orang lain, tepatnya kamu, dengan sedikit-banyaknya kata-kata kurang sopan. Maaf, bukan saya bermaksud demikian, tapi saya kadang merasa bosan ketika bahkan niat baik saya selalu saja berujung tidak baik.
Kamu mungkin tak akan pernah bisa membaca ini, sudahlah, saya hanya sedang mengungkapkan apa yang saya pikirkan.
Rasanya sudah sangat lama saya tidak menulis, yang biasanya selalu kamu baca, meski kamu bukan siapa-siapa (waktu itu). Kini, setelah kita sudah sangat dekat (saya pikir) tapi tak pernah lagi kamu melihat tulisan-tulisan saya itu.
Mungkin saya rindu akan segala hal yang dulu pernah terjadi. Ketika seseorang marah akan kedekatan kita, ya memang seharusnya begitu. Pernah juga tentang foto pertama kita, dia marah, haha, bodohnya saya berharap kamu senang, hm ternyata kamu ‘mungkin’ hanya kasihan melihat saya seakan mengemis akan rasa ‘cinta’ dari kamu.
Itu kenangan buruk. Dan hari ini, terasakan lagi hal buruk lain yang seharusnya tidak terjadi. Sebentar itu sekitar satu jam kurang, saya pikir. Tapi waktu merupakan hal penting untuk saya. Satu detikpun mungkin menjadi satu hal spesial jika itu bersama kamu, mungkin kamu tidak.
Sebenarnya, saya hanya bermaksud memberitahu kamu. Dengan segala apa yang saya punya, saya hanya sedang merasa rindu pada kamu. Tidak ada lagi, saya tahu itu. Tapi setelah momen ketidakpercayaanmu itu, saya sadar, kadar kepercayaanmu itu tidak pernah penuh, selalu saja pikiran buruk itu yang kamu punya.
Buanglah. Saya memohon pada kamu. Saya sedang benar-benar berharap pada kamu. Saya selalu ingin menjadi yang pertama, yang satu, dan yang terakhir. Tidak bisakah itu? Sesulit apakah itu? Hingga saya tahu bahwa kamu tidak pernah benar-benar ingin saya ada, dan kamu tidak pernah benar-benar berharap saya bisa menjadi tempat kamu kembali.
Kadang iya, saya ingin kamu pergi, atau saya ingin saya pergi darimu. Tapi, saya selalu ingat. Enam bulan itu bukan waktu yang singkat. Setelah kesalahan yang saya anggap fatal itu terjadi, saya sudah tak ingin lagi melihat orang lain, memandang orang lain, atau memiliki orang lain. Saya sudah cukup puas menahan rasa benci melihat kamu berbahagia, ya dengan orang lain. Itu cukup dari membuat saya sekarat.
Siapapun itu, apapun yang tengah membuat saya tidak bisa dekat denganmu, saya selalu merasa terbunuh, selalu merasa ingin membunuhnya, karena saya tidak pernah ingin melewatkan satu minggupun tanpa melihatmu, tanpa menyentuhmu, bahkan tanpa membuatmu sebal karena selalu saya ganggu. Saya selalu merindukan itu setiap minggunya.
Di kota yang samapun kita hanya bisa berbagi cerita lebih dari empat jam hanya seminggu sekali, apalagi ketika kita berada pada jarak yang semakin jauh, saya tak tahu lagi harus merasakan apa.
Saya marah, itu hanya karena saya terlalu takut jauh dari kamu, takut tak bisa mendengar suaramu dan cerita juga semua keluh kesahmu. Saya lebih senang mendengarmu marah daripada harus merasakan sepi tanpa kabar darimu.
Saya marah, itu hanya karena saya ingin kamu ada, saya selalu rindu akan dirimu, selalu ingin bisa bersamamu. Hanya itu.
Maaf, saya telalu cerewet hingga membuatmu kesal. Tapi dengan kemarahan ini, saya tahu bahwa kamu masih peduli.
Marahlah, saya suka. Marahlah, itu tanda kamu peduli. Marahlah, saya tetap menyayangimu.

Iklan

Terakhir

Ini kata-kataku yang terakhir jika kamu mau memberi celah.

Sebelum aku benar-benar mati,
Sebelum aku benar-benar menghembuskan nafasku yang terakhir,
Izinkan aku menghentikan air mata dalam hatiku,
Mengehntikan segala kesalahan yang aku perbuat secara sengaja ataupun tidak.

MAAF
Izinkan aku mendapatkan maaf agar aku bisa tenang menghadapi segala kehidupan ini,
Izinkan aku merasakan kebahagiaan dunia dengan baik untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat yang mungkin sudah diambang mata.

Aku pernah salah dan aku pernah menyakiti,
Tapi aku selalu berdoa agar semua takkan pernah berlanjut menjadi semakin parah.

Aku pernah membuatmu menangis atau kecewa,
Tapi izinkan aku melepaskan kepenatan ini.

Jika seandainya kamu ingin marah dan benar-benar marah. Marahlah. Tapi hanya padaku.
Jika seandainya kamu tidak mau memaafkan. Silahkan. Tapi maafkanlah yang lain.

Cukup aku. Cukup ini dosaku. Bukan orang lain. Bukan juga semua orang.

Maaf?

Apa semudah itu kamu ucapkan maaf?
Setelah apa yang telah kamu lakukan dan hampir membuatku mati karena kesakitan.

Apa iya semudah itu kamu katakan maaf padaku?
Setelah mengkhianati apa yang kamu sendiri katakan, setelah kamu membohongi apa yang kamu janji padaku.

Maaf?
Aku bukan tempat persinggahanmu. Yang ada ketika kamu bosan dengannya. Yang mau kamu maafkan sepuas hatimu. Yang senang kamu bohongi juga khianati.

Maaf?
Apa belum puas kamu memberi peluh dalam hidupku?
Apa belum puas kamu beri kesakitan pada setiap hariku?

Tidak !
Tidak ada lagi yang bisa aku berikan. CUkup aku lelah memberimu kesempatan. Cukup aku lemah memberikan kepercayaan padamu.

Tidak !
Tidak ingin lagi aku mengingatmu. Tidak pula aku ingin mengenal kehidupanmu.

Teman?

Kau rampas nyata apa yang aku punya. Tanpa malu. Tanpa sebuah penyesalan.
Teman yang aku pikir akan menjadi teman yang nyata dan membangunku menjadi jauh sangat lebih baik. Ternyata menjerumuskanku. Ternyata menusukku. Ternyata membuatku teramat sangat hina.
Kau rampas nyata apa yang aku punya. Tanpa malu. Tanpa sebuah penyesalan.
Teman yang aku pikir sejati kini mengkhianatiku. Teman yang aku pikir sejalan dengan keseharianku ternyata memberi noda dengan tinta kebusukkan yang melelehkan hatiku, meremukkan jantungku, membelah ragaku, meracuni pikiranku dan menjauhkanku dari kesucian.
Kau rampas nyata apa yang aku punya. Tanpa malu. Tanpa sebuah penyesalan.
Inikah arti  teman yang sesungguhnya? Inikah arti teman sejati yang sebenarnya? Yang menghancurkan, mengkhianati, meracuni, membebani, menyusahkan, menggores luka dan pergi tanpa malu dan penyesalan. Tanpa maaf dan ucapan.